Monday, November 16, 2009 at 10:59am
i wrote this on my facebook's note :)
Kemarin saya ke kota Malang.
Bukan untuk jalan-jalan, tapi sebuah pemakaman.
Menemani ibu saya, bersama perwakilan keluarga lainnya.
Beliau salah seorang Oma terbaik dalam hidup saya.
92 tahun usianya. mirip usia buyut saya, Nathalie.
Kota ini memorable buat saya, pahit dan manis.
Lucunya, justru yang pahit terjadi di usia dewasa, hah.
Tak apalah, saya masih sanggup pura-pura amnesia.
Saya tidak terlahir di kota ini, tapi ada hati yang terikat.
Opa dan Oma saya menikah di kota ini.
Gereja tua Imanuel, kemarin saya melewatinya.
Masih cantik seperti yang saya lihat di foto tua itu.
Terbesit keinginan menikah juga disana, mengulang sejarahkah? Hah.
Karena itu mereka menjuluki Sumampouw Malang atau Manado Malang.
Malang kota atau malang nasibnya? Ambigu, haha.
Ayah dan Ibu saya juga menemukan cinta di kota ini.
Sempat saya menggoda, kok boleh sih pacaran keluar kota?
Ibu menjawab, mereka bertemu ketika mengawal acara murid sekolah minggu.
Glek.
Si gondrong ganas dan main band mengajar sekolah minggu?
Okelah, saya terima.
Toh, saya bersyukur mereka menikah dan menjadi milik saya.
Kemarin kami reuni keluarga mendadak.
Mungkin itu salah satu fungsi pemakaman (dan pernikahan, saya rasa).
Seringkali saya mendengar, ini siapa ya?
Anaknya siapa ya? Sudah lulus? Sudah menikah?
Yah, pertanyaan general.
Tak apalah, paling tidak saya tahu saya punya keluarga besar, haha.
Kemarin juga saya melewati beberapa tempat.
Yang ingin saya kenang, yang tidak ingin saya kenang,
dan yang terpaksa saya kenang.
Beberapa kata kutukan sempat terucap.
Beberapa kekaguman juga.
Tapi semuanya saya tutup dengan ucapan syukur. Semuanya memproses saya.
Saya melihat rumah ijen.
Lapangan depan membuat saya merasakan lari-lari kecil saya dulu.
Juga pohon keresnya.
Mampir kerumah paman, di dekat makam, banyak foto-foto lama.
Kerumah megah tante saya di Cipu.
Saya ingat bakso dan rindu sepupu sepupu yang hijrah ke ibukota.
Kemarin paling berkesan yah di pemakaman Sukun.
Selain mengantar Oma, saya melihat makam suaminya.
Lalu Buyut saya, Hallo Opa buyut!
Keluarga besar juga berkumpul disini.
Saya kira hanya di kembang kuning Surabaya, hah.
Saya nanti dimana ya?
Kemarin saya bernyanyi bersama keluarga di depan peti Oma.
Kemarin saya juga menangis ketika peti ditutup.
Kemarin saya mengetahui bulan depan sepupu saya akan menikah.
Kemarin saya baru melihat ponakan saya yang tampan untuk pertama kalinya.
Kemarin saya berbicara akrab dengan ibu saya di sela-sela acara.
Kemarin saya melihat kebaikan dan keburukan di satu hari.
Kemarin juga saya memutuskan harus meneruskan kehidupkan.
Semuanya berkesan.
Tapi saya harus pulang, besok kerja.
Surabaya bukanlah kota yang terbaik dalam hidup saya.
Tapi saya paling terikat disini, bukan hanya karena kota kelahiran saja.
Saya pindah ke mobil satunya.
Duduk di sebelah kemudi kakak laki-laki ibu saya yang paling gemar bercanda.
Sebenarnya beliau berharap saya menemani mengobrol.
Tapi mungkin bulu mata saya banyak tumbuh hingga berat kelopaknya, hah.
Beliau terpaksa memasang musik orangtua saya yang selalu ada di dalam player.
Sesekali saya terbangun.
Menunggu sms atau telepon itu. Tapi kasihan sekali saya, tidak ada.
Biarlah, saya lelah.
Saya tidur lagi. Terbangun lagi ketika bibi-bibi saya bercengkrama.
Tertidur lagi.
Sesekali saya menoleh ke kursi ibu saya.
Seringnya beliau tertidur.
Lalu terbangun dengan gusar melihat jam dan menatap jalan dengan mata tajam.
Apa sih yang beliau pikirkan?
Oh, saya ingat.
Beliau memikirkan saudara kandung saya di kursi rodanya.
Juga belahan jiwanya, yang menggantikan tugasnya menjaga rumah.
Saya melihat kesetiaan cintanya di mata yang gusar.
Sesekali saya mengajaknya bercanda, ibu mendengarkan.
Namun saya tahu tidak ada konsentrasi disitu.
Kemarin saya melihat hujan di kota Malang.
Hujan juga mengantar perjalanan pulang kami.
Saya merindu pelangi, tapi kemarin dia tidak hadir.
Tak apalah, masih ada daun-daun yang segar untuk kulihat.
Bau tanah karena hujan dan suaranya, oh, nampaknya saya juga rindu hujan.
Entah kenapa ketika kecil saya berani menari di bawah hujan.
Sekarang saya cukup memandanginya saja.
Alasan kesehatan, malas cuci baju, dan lain-lain.
Tapi suatu hari saya ingin menari lagi di bawah hujan, karena saya rindu.
Hujan kota Malang kemarin.
Saya melihat pantulan wajah ibu saya dari jendela.
Saya melihat cinta dan kekuatannya.
Tenang Ma, sebentar lagi kita tiba di rumah.
Akhirnya saya memutuskan untuk tidak terlalu tidur, hah.
Diiringi lagu “pigi jo deng dia” atau “balada palaut”
Saya memandangi jalan dan hujan yang tertinggal di Malang.
Ah, lagu-lagu itu.
saya nyaris lupa kalau mobil ini diisi oleh orang orang ras ibu saya,
saya nyaris lupa leluhur dan budayanya.
saya terlalu suroboyo, hah.
Saya membaca lagi.
Tulisan ini bukan puisi, juga bukan cerpen.
Saya hanya ingin mengenang hari kemarin.
Karena itu saya juga tidak menemukan intinya.
Tentang kota Malang? Rindu hujan?
Rindu seseorang? Kecintaan saya pada ibu saya?
Atau kebahagiaan kecil di reuni keluarga?
Ah, otak saya memang rumit. Tidak juga pandai menyampaikan hati.
Saya cuman nulis buat Oma Yo saja.
Semoga beliau merasakan kehadiran saya,
Semuanya tersirat.
Bahagia di surga kekal.
(saat ingin menulis dikantor, Nov 16th, 2009)
komentar :Nuansa Herwindo sabar ya cin,suatu saat kamu pasti akan melihat pelangi dan ketika itu semuanya yang ada di hati mu akan menjadi berwarna dengan jelas.. jangan pernah patah dan berkeping-keping.. tuhan memberkatimu..
November 17, 2009 at 11:28am
Ruth Priscilla Hutubessy hahaha, jadi inget curhatku dl ya ttg Malang? inget ga sih, kamu marahin aku habis-habisan. uda brapa taun itu.. tapi aku masih inget, buat kebaikanku juga. makasiii yah ndol, selalu menjadi suporterkuuu :)
aku pasti bakal ketemu pelangi itu! kamu juga!!
Tuhan memberkatimu..
November 17, 2009 at 12:07pm