18 March 2013

ALEXANDER



Entah mengapa beberapa hari ini saya sedang keranjingan mendownload lagu-lagu antara orang tua dan anak untuk sebuah pernikahan. Does it mean I’m getting closer to my wedding day? :D
Tepatnya saya tipikal mudah tersentuh dengan lagu yang menggambarkan cinta antara orangtua dan anak.

Seperti yang kerap kali saya ungkapkan, keluarga saya tidak sempurna. Tapi jika saat ini saya harus menyebutkan satu hal yang paling saya syukuri dalam perjalanan hidup saya hingga detik ini, adalah keluarga saya. Saya sangat diberkati terlahir dalam orang tua dan seorang kakak yang dimana kami sangat terikat secara batin. Kami saling mencintai. Diluar sana jika saya melihat teman tanpa ayah, tanpa orang tua, memiliki orangtua yang sibuk, apapun itu... Sungguh saya tidak layak untuk mengeluh.

Pagi tadi seorang teman memposting sebuah lagu tentang seorang ayah yang akan melepas putrinya untuk menikah.  Saya mendengarkan setiap liriknya dengan hati saya.

Mungkin Ayah saya adalah lawan berdebat saya yang paling rutin dalam kehidupan ini. Mulai dari hal kecil hingga terberat sekalipun. Ibaratnya, jika tidak ada ibu saya di tengah-tengah kami, perang dunia ketiga tak akan terelakkan lagi. Dan saya tahu postingan ini tidak akan cukup untuk menceritakan kisah hubungan kami.

Ayah saya-lah yang menganugerahkan nama Ruth dan Priscilla sebagai doanya. Dia menuliskan, “Welcome Ruth Priscilla Hutubessy” di sebuah kertas di dinding kamarnya beberapa hari sebelum saya lahir. Ketika setiap orang meramalkan bayi yang dikandung ibu saya adalah laki-laki, Ayah berkata : “Tidak, aku sudah meminta Tuhan anak perempuan dan Ia akan menepati janjiNya”. Ketika saya lahir dan suster menunjukkan saya kepadanya, ia tertawa kaget dan bahkan membuka kain yang menutupi (maaf) alat kelamin saya hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa saya bayi perempuan yang ia doakan. Maklum, jaman dulu tidak ada biaya untuk USG untuk mengecek jenis kelamin.

Singkat cerita, sedari dalam kandungan ibu, saya dibentuk untuk menjadi perempuan kuat dan menjadi penyeimbang kakak saya, jikalau anda tahu apa yang saya maksud.

Sedari kecil, Ayah mendidik saya sama seperti kakak saya yang adalah laki-laki. Di rumah kami, tidak ada perbedaan gender. Hanya kami sadar ada kalanya kegiatan fisik dan beberapa hal, kami harus berbeda dengan laki-laki. Namun mengenai hak dan menyuarakan opini, kami sama. Ada kalanya melihat pengaruh teman-teman yang dibesarkan secara sangat anak perempuan pada umumnya, saya memprotes ayah saya. Saya ingin memberontak, saya ingin diperlakukan seperti teman-teman perempuan lainnya. Di masa remaja saya, saya sering berusaha melawannya ditambah dengan masa-masa mencari jati diri. Saya ingin dimanja, diperlakukan bagai putri kesayangan, dikabulkan setiap permohonan. Dulu saya marah besar. Marahhhhh sekali, sampai cinta pun mengalahkannya. Saya belajar memaafkannya, ketika ia pun memaafkan saya. Saya belajar mengatakan maaf dan sayang itu adalah hal penting yang kerap kali dianggap remeh serta ditunda untuk diucapkan.

Ketika usia dan kedewasaan bertambah, ketika jalan hidup makin terjal. Saya makin mengerti mengapa saya terlahir sebagai anaknya. Bukan ayah yang lain. Didikannyalah yang membuat saya tangguh menghadapi hidup. Apakah dia ayah yang keras dan otoriter? Mungkin. Tapi dengan bekerjasama dengan ibu saya, ia menjadi sosok ayah yang lengkap.

Pernah dalam satu peristiwa,  ia berusaha menahan kesedihan hingga akhirnya ia menyetir mobil dan melepas tangisannya. Ketika kakak saya harus pergi untuk selama-lamanya. Saya berkata, “Pa, hati-hati nyetirnya, atau kita naik taxi?”. Beliau menjawab, “Papa kasihan dan nggak tahu nanti kalau melihat mama..”.  Saya memegang pundaknya. Beliau lebih memikirkan ibu saya daripada lukanya yang harus kehilangan putra sulungnya. Sampai detik saya menulis ini pun, beliau menjadi sosok yang sangat protective ketika orang lain sedikit mengorek tentang almarhum kakak saya, jawab ayah saya sederhana, “Papa nggak suka lihat mama menangis”. Dan itu bukan hanya kali ini, sedari kecil ketika saya masih asyik membangkang, ayah saya mungkin bisa menghajar saya habis-habisan jika melihat hati istrinya terluka. Dan hanya pembelaan wanita yang saya lukai itulah, maka pengampunan ayah saya dapatkan.

Entah ini naïf atau tidak, tapi dibesarkan dalam keadaan inilah, maka saya berharap dan tahu pasti kelak memiliki suami yang begitu menyayangi saya, adalah bukan hal yang mustahil. Seperti ayah kepada ibu saya.
Ayah saya selalu uring-uringan ketika teman-teman pria dengan maksud tertentu bertandang kerumah. Ia tahu putrinya tomboy dan punya banyak teman pria, tapi radar-nya sebagai seorang ayah sungguh sangatlah mampu membedakan mana pria yang punya maksud tertentu. Hingga kemudian radar itu diperuncing dan ia mampu menilai pria mana yang layak menjadi pasangan anaknya.
Kami kerap berdebat mengenai penilaiannya itu. Saya sebagai orang yang jatuh cinta selalu membela pilihan-pilihan saya, hingga akhirnya saya tahu pada akhirnya mengapa ia belum melepas saya kepada mereka.

Ketika pertama kalinya saya dikhianati oleh laki-laki yang saya cintai dan dalam kesakitan hati saya, saya berteriak ingin mati. Ayah saya merengkuh saya ke dalam pelukannya dan memangku saya bagai seorang bayi, tanpa banyak kata ia menenangkan saya. Ia mengatakan ia mencintai saya, “Kamu tidak akan mati, karena nanti Papa akan punya cucu dari kamu”. Saya terus menangis hingga tertidur. Sejak malam itu untuk beberapa saat lamanya, saya tidur di ranjang ayah dan ibu saya, dalam pelukannya, dan dalam doanya setiap malam menjelang. Hingga akhirnya saya menemukan tambatan hati yang baru.

Ketika kami bercakap-cakap menghabiskan waktu antara ayah dan putrinya, ia berkata betapa sakit hatinya mendapati putrinya disakiti, dikhianati dan ditinggalkan. Ia berkata, seharusnya ia dapat mencegahnya, namun kebahagiaan saya diatas segalanya. Ia menguatkan hatinya untuk menahan diri dan membiarkan semua terjadi agar putrinya belajar segala resiko dari setiap keputusan, belajar dewasa. Ia ikut menangis bersama saya dan berkata bahwa saya layak mendapatkan yang saya butuhkan dengan kuat melepas yang saya inginkan.

Saat masih remaja, pernah ia memukul saya dan memegang tubuh saya dalam cengkramannya yang keras, ia marah. Dan kami bertukar sorot mata tajam. Saya masih mengingat sorot mata itu. Sorot mata penuh kekuatiran akan putrinya. Dan ketika saya bercakap-cakap dengan teman yang sudah memiliki anak dan membicarakan masa depan anak mereka dengan penjagaan ketat mereka, sadarlah saya mengapa ayah berbuat seperti itu. Semata-mata untuk saya.

Dengan berletih Ayah bekerja membanting tulang dari pagi hingga petang, melanjutkan kuliahnya, bukan untuk sekedar membeli mobil. Tanpa mobil, tinggal dalam sebuah rumah kecil, tanpa baju baru setiap natal, tanpa liburan keluarga, Ayah berusaha memastikan saya bisa les musik, modelling dan olahraga, pada intinya kegiatan positif apapun yang dapat mengeksplor talenta putrinya. Yang pada akhirnya semuanya saya sia-siakan karena kekerasan kepala saya dan kebolehan untuk berkata tidak.  Ayah saya menyerah untuk memaksa saya. Di usia sekarang inilah saya menyesali keterbatasan bermain musik saya, dan saya pun berhasrat agar anak saya harus belajar dari kesalahan saya kelak.

Dulu, dengan kekerasan kepala saya, saya memaksa untuk tetap melanjutkan kuliah di universitas yang cukup bergengsi dengan biaya mahal ditengah-tengah masa pensiun ayah saya. Entah mengapa insting saya menuntun untuk membuat keputusan sinting, tapi selalu saya syukuri hingga detik ini. Ayah yang mengajari saya untuk ‘perbuat perkataanmu’ ini menantang saya untuk, “Saya juga akan bekerja untuk membiayai kuliah, Pa, percaya sama saya”.  Saya bersyukur memiliki ayah yang meletakkan kepercayaan dan kebebasan pada saya, disitulah terletak ketakutan saya untuk mengkhianati kepercayaannya.

Ayah juga yang mempercayai saya untuk menjadi pemimpin pujian di gereja ketika saya baru menginjak kelas 2 SMP. Sampai detik saya bergereja di gereja yang sama, mungkin sayalah yang paling muda memulai pelayanan gereja secara terjadwal bersama rekan-rekan dewasa. Pada suatu saat, Ayah saya juga mempercayai saya untuk bermain organ di gereja. Meski berhenti les musik dan belajar dari Ayah, saya beranikan diri untuk bermain. Pernah saya bernyanyi fals, atau salah kunci ketika bermain organ, ia hanya diam. Mungkin ia malu, hehehe. Tapi ia tidak pernah menghentikan dan memarahi saya. Ia hanya marah jika saya mulai tidak serius dan malas-malasan. Paling sering ia marah jika saya mulai membantah ibu saya yang menyuruh berlatih, itu saja intinya.

Dari Ayah, saya belajar menjadi pekerja keras sejak kecil. Ia tidak pernah menghina saya ketika menjadi SPG, meski lingkungan sekitar tahu jabatan ayah saya. Bahkan ia tertawa bangga ketika saya melamar paruh kerja menjaga loket parkir di kampus saya. Ia menjemput saya ke kampus dan bertanya, “kapan gajian?”, selayaknya rekan sesama kerja. Ayah bercerita bahwa dulu ia pun pernah menjadi penjual koran, hingga menjadi pemain band di kapal atau hotel, lalu memutuskan bekerja dikantor. Ayah hanya mengajarkan, dari setiap kerja keras dan doa-mu, Tuhan akan membawamu ke tempat yang lebih tinggi, baik iman, pribadi maupun kebutuhanmu. Namun ia tetap berkata, kelak jika mencari partner hidup, carilah pekerja keras dan sosok tangguh, agar kamu tidak melemah. Baginya pria pemalas dan bermental totally robot pegawai tidak akan bertahan hidup ketika kelak kondisi keluarga diombang-ambingkan.

Ayah saya adalah sosok yang tetap setia naik sepeda motor ke kantor meski beberapa rekan kerja dan anak buah sudah memiliki mobil. Saya sempat malu, minder dan apapun itu. Namun, ia selalu menenangkan saya dengan mengatakan bahwa, harta mungkin bisa membuatmu dipandang teman-temanmu, tapi talenta dan pribadimu yang membuatmu punya banyak teman kan selama ini? Saya hanya terdiam. Dan lambat laun melupakan keminderan itu serta yakin bahwa ayah saya punya tujuan yang lebih besar bagi kami daripada sebuah mobil.

Ketika usia makin dewasa, dan saya telah belajar mengendarai mobil maupun sepeda motor, ia tetap mengantarkan saya dengan bahagianya kemanapun saya pinta. Bukan karena ia overprotective, bukan karena saya sungguh malas – meski terkadang ya, okay, saya AGAK malas, tapi lebih karena kami sama-sama merasa, kesempatan ini tak akan terulang lagi. Kelak jika saya keluar dari rumah, kami akan merindukan masa-masa ini. 

Ayah saya mendukung semua kegiatan saya, ia paham benar bahwa penyesalan si anak akan talenta-talentanya datang terlambat. Ayah tak pernah menghambat saya untuk nonton konser musik jenis apapun, dia menonton saya ketika saya bernyanyi, ia bangga kepada saya apa adanya. Ia tak pernah membandingkan saya dan memaksa saya untuk sebagus penyanyi manapun, ia hanya marah ketika saya mulai meragukan diri saya. Ia marah benar. 

Saya pernah membuatnya terluka ketika saya membuat sebuah rencana pernikahan dan harus sirna. Sekali lagi dalam pelukannya, saya menghabiskan air mata saya. Saya menyalahkan diri saya berkali-kali. Ayah saya hanya berkata bahwa ia dan ibu saya akan selalu ada dibelakang saya. Mereka mendoakan saya. “Pria yang mencintaimu tidak akan membiarkan kamu menopang sebuah rumah dalam satu fondasi, kalian adalah partner. Priskila dan Akwila serta Rut dan Boas dalam Alkitab. Ingat kisah namamu kan?”. Ayah mengingatkan saya bahwa dalam setiap kebosanan hubungan, pasang surut, amarah, usia dan apapun gejolak dalam sebuah hubungan, KOMITMEN-lah yang tinggal tetap. Ada satu momen ketika ayah masuk ke kamar saya, dan duduk di tepian ranjang saya, mencium kening saya dan berkata, “Papa tidak pernah malu atas apa yang menimpamu. Papa bangga. Sangat bangga. Putri papa sudah dewasa dan berani mengambil keputusan genting di titik terakhir”. Jawab saya, “Aku sudah melukai papa kedua kalinya ditahun ini, setelah papa dan mama harus kehilangan Andre, dan sekarang aku berulah...”. Dia menghela nafas panjang. “Dari awal kamu memperkenalkannya, papa sudah bertanya padamu detil tentangnya, tapi seperti biasa… selama kamu bahagia, papa akan dukung. Dari sini kamu belajar, pria baik banyak, yang mencintaimu juga banyak, tapi yang berkomitmen itu harus kamu pergumulkan, nak”. Ayah saya adalah sosok yang sangat takut dan mendoakan saya agar tidak salah langkah serta menghabiskan sisa umur hidup saya dalam sebuah penyesalan. Sosok ayah yang akan selalu menjagai saya di usia berapapun saya hingga maut menjemputnya. Ayah yang berani mempertaruhkan kehancuran hatinya hanya untuk melihat putrinya bangkit kembali menerjang kehidupan.

Saya selalu berkata kepada Ayah saya untuk tidak bosan-bosan mencintai ibu saya. Saya berkata kepadanya, terimakasih karena tidak pernah memaksa saya untuk buru-buru menikah hanya mengikuti dorongan sekitar, namun membiarkan saya berpikir serta memilih yang terbaik. Saya memeluknya dan selalu bertanya, “Papa bangga sama aku?”, ia menjawab, “Sangat bangga. Perempuan yang tidak takut dan bisa mengambil sikap serta keputusan. Papa bangga”. Tanpa perlu menjadi sosok terkenal atau muncul menjadi seorang presiden, ia adalah sosok Ayah yang bangga hanya karena saya membuat sebuah keputusan yang benar, sosok Ayah yang bangga hanya karena saya tidak menyalah gunakan kepercayaannya, sosok Ayah yang bangga pada saya apa adanya saya. Sosok yang tidak bosan-bosan untuk berkata bangga pada saya hanya sekedar untuk menyenangkan, menenangkan dan menguatkan saya. 

Dalam jatuh dan bangkit lagi dalam kehidupan ini, pria yang selalu setia mendampingi saya adalah Ayah saya. Ayah yang tidak rela kekuatan putrinya melemah, ayah yang mendoakan seorang pria kuat untuk menggantikan tugasnya menjaga putrinya, ayah yang mendoakan seorang pria yang takut akan Tuhan. Dan meski kelak saya memiliki suami, atau anak laki-laki, tak bisa saya pungkiri bahwa pria yang mencintai saya pertama kali dalam kehidupan ini dan cinta pertama saya adalah ayah saya. 

Dalam didikannya, saya tumbuh dalam kelimpahan kasih sayang. Dalam kelimpahan itulah saya membagikannya bagi sesama terutama yang berkekurangan kasih sayang. Agar dunia tahu bahwa kasih itu masih ada, masih nyata. Kasih seorang ayah itu masih ada dan nyata.

Dalam doa, saya berharap agar setiap pria memiliki hati akan Dia, sehingga anak tanpa sosok ayah yang tidak bertanggung jawab itu dapat hilang dari dunia ini. Agar banyak pria yang bisa bersikap seperti pria yang ia harapkan menjadi pendamping putrinya kelak. 

Ayah mencintai saya dengan caranya, dan saya melihat sosok Tuhan dari wibawa ayah saya. Darinya, saya belajar siapa Tuhan itu. Ada pepatah yang begitu berarti bagi saya, “Hubunganmu dengan Tuhan dapat kau lihat dari hubunganmu dengan ayahmu.”  

Ayah saya bukanlah ayah yang terbaik di dunia ini, tapi… jika saya memiliki satu kesempatan untuk terlahir kembali ke dunia ini dan memilih ayah sendiri, tetap dialah yang kupilih.