23 July 2010

Saya keturunan Maluku :)

Nama keluarga adalah identitas. atau...Apalah arti sebuah nama?
Semua kalimat itu tetap menegaskan saya keturunan Maluku :)
Lucunya, saya dulu minder berat dengan ras saya, seperti memikul salib. Ketika masih kecil saya berusaha mati-matian menyembunyikan nama keluarga. Saya mengaku orang manado (mengikuti garis ibu saya). Jika terpaksa menyebut Ambon, suaranya sedikit dipelankan. Mengapa? karena orang Ambon itu hitam-hitam. Hahaha. Maklumlah, pemikiran bocah.

Semakin dewasa, saya sudah tak memikirkan ras, bagaimana mau disembunyikan jika wajah saya sudah mewakili. Haha. Secara fisik saya tidak seperti orang Ambon asli, yaiyalah...Nenek ayah saya keturunan Belanda, dan ibu kandung saya orang Manado. Sudah tercampur baur.
Tapi marga saya tetap Ambon.

Banyak orang bilang perpaduan Ambon dan Manado itu dahsyat, haha, entah apanya. Hitam dan putih, ya ya ya. Saya merasakannya. Jiwa musik, kuat dan pantang menyerah mereka turunkan, baik dan buruk semua diturunkan (dan disaring juga lah!). Pada akhirnya saya bersyukur atas semua percampuran itu. Makes me unique!!

Dan minggu depan pertama kalinya dalam hidup saya akan pergi ke Ambon, meski tujuan utama bukan plesir, tetap saja saya merasa excited! Sampai membuat daftar objek2 wisata, meski saya meragu karena membuat tujuan utama tidak fokus haha.
Selain itu, apa mereka akan menerima kami sebagai orang ambon ya? haha. Saya sudah sangat Jawa bangetttt :P
Papa saya juga cuman numpang lahir di saparua. TK saja beliau sudah di surabaya.
Pokoknya ini adalah kejutan yang tak disangka, saya berharap banyak hal istimewa yang akan saya jumpai disana.
Terimakasih Tuhan, tiket sudah ditangan :)

family matter

The most reliable reason for my leaves permit in office :P
Tapi, saya jarang cuti. Saya juga menggunakannya sesuai kenyataan. Perihal keluarga.
Sudah 2 tahun yang lalu (juga) kakak saya tertimpa musibah yang harus membuat kedua kakinya tidak berfungsi. 2 tahun yang lalu benar-benar kehidupan keluarga dijungkir balikkan dan diproses. Saya secara pribadi juga.
Lalu...seiring jalannya ke masa kini, saya belajar untuk mengambil makna dari setiap hal. Saya belajar untuk tidak banyak bertanya, mengapa Tuhan? tapi saya belajar untuk, "Tuhan mengijinkan ini terjadi karena...". Dan jawaban terbanyak untuk itu adalah, karena Tuhan ingin saya bergantung penuh padaNya, bukan kekuatan saya sendiri.

Berbagai usaha memulihkan kondisi kakak saya seperti semula sudah dicoba. Itu semua sedikit demi sedikit menggerogoti keuangan keluarga, krisis ekonomi. Menggerogoti keyakinan kami pula. Emosi dan kekuatiran mengisi hari demi hari. Tapi manusia tak melihat kami diproses, dan kami berjuang, dan saya yakin kami sudah naik tingkat untuk lebih baik.

Saya juga meyakini bukan dokter yang diperlukan untuk kesembuhan fisik kakak. Saya berharap dia merasa bahwa iman lah yang Tuhan minta. Kekurangan psikisnya semakin melengkapi penggerogotan iman. Saya terus-terusan berkata dalam hati, ini kerja double! Jika imannya telah menguatkan psikisnya, dan ia bisa mengontrol pikirannya, saya percaya sedikit demi sedikit kesembuhan fisik akan mengikuti. Tapi bagaimana menyampaikannya jika ia bukanlah saya.

Saya hanya berkata ke Tuhan dan orang tua. Pernah saya merasa jemu dan ingin berhenti pada satu titik. Ingin menolak semua. Tapi ada satu keyakinan dalam diri saya yang mengatakan, "Sudah jauh kamu melangkah naik kelas iman, haruskah kamu menyerah?". Yah, mungkin saya harus berserah, bukannya menyerah.

hahaha, banyak juga prolog saya, padahal saya mau bilang kalau minggu depan, senin 26 Juli 2010, saya dan keluarga, kami ber empat akan ke Ambon. Tujuan utama membawa kakak saya ke seseorang yang mendapatkan mujizat Tuhan dan karunia untuk menyembuhkan melalui sentuhan. Saya tergolong orang modern yang tidak percaya, bahkan kalau boleh memilih, bisakah Tuhan memberi mujizat tanpa perantaraan saja? Karena akan sulit membedakan mana mujizat Tuhan dan mana rekayasa iblis. Am i right?
Saya sempat protes pada orang tua. Kami berdiskusi, sampai pada di suatu saat dimana saya melihat ibu saya meneteskan air matanya.
Ia benar-benar memiliki mimpi dan iman kedua anaknya mendapatkan berkat berlimpah-limpah. Saya terdiam. Ibu saya hanya berkata, "Pris, kalau itu bukan dari Tuhan atau Tuhan tidak berkenan, Mama percaya Tuhan akan melindungi kita. Ia akan menghalangi kuasa luar untuk memasuki kita, Ia akan menggagalkannya".
Saya terdiam.
Ia melanjutkan, "Dan jikalau akhirnya kepergian kita tidak membuat kakak sembuh, serta uang tiket yang terbuang, Mama rasa Tuhan tetap melihat kita berusaha dan kita bersungguh-sungguh memohon kakak dipulihkan secara psikis dan fisik".
Ini adalah jawab klimaks yang membuat saya yakin, uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk berusaha itu hanya akan terbuka di titik kamu harus mengambil atau melepaskannya sama sekali.
Itu adalah titik yang membedakan seorang dreamer dan seorang believer.
saya memilih untuk menjadi seorang believer.
Saya berusaha untuk mempercayai bahwa terkadang Tuhan mengijinkan manusia menjadi perantaraan mujizatNya. Manusia tetap harus menguji mujizat itu, apakah milik Tuhan atau bukan. Terutama sekali saya benar-benar menjaga hati agar iman saya tidak berbelok, men-Tuhankan si perantara. Semoga kakak saya memiliki iman itu. Semoga ia menjadi seorang believer. Tuhan, turut campur tanganlah dalam rencana kami, amin.
Satu lagi, merekalah alasan saya mampu melewati peristiwa dua tahun lalu, saya bertahan karena mereka-lah sekarang yang menjadi prioritas dalam hidup saya. Saya anggap jika saya bertanggung jawab terhadap mereka, maka pasangan hidup dan anak-anak buat saya adalah anugerah yang akan menghampiri ketika saya mengerjakan tugas berat ini. Alias, saya tidak usah kuatir :)

sedikit sakit

WOW! it's been ages for not writing my blog. (hiperbola).
sebenarnya otak dan hati saya ingin menulis seminggu ini. Tapi komputer dirumah rusak. Dan sebenarnya saya mau tulis kisah kisah gembira dan bukan masa lalu saja. Tapi..hehe. Mungkin saya akan sharing yang buruk dulu saja, karena baru saja menghampiri dan agar beban ini segera lepas.

Baru saja saya membuka facebook saya. Entah kenapa saya tertarik oleh sebuah poster event yang pada akhirnya merujuk pada nama dan nama dan nama orang masa lalu itu. Bukan miliknya tentunya. Tapi lingkaran terdekatnya. Saya beranikan diri dengan excuse, apakabar mereka. Saya terperanjat akan sebuah foto. Fotonya dan putri kecilnya yang membuat saya mengambil salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya.
Saya tidak ingin menangis. Mungkin sudah tidak bisa. namun manusiawi saya merajuk untuk mellow. Okelah, boleh sedikit saja. Saya melihat baik baik. Dan saya tersenyum. Seperti melihat ia dan mimpi kami dulu.

Jari jemari saya dingin membeku. Suara saya tersendat di tenggorokan. Mungkin itu ciri-ciri orang yang menahan emosi yah :)
Saya tidak merasakan lagi amarah, benci atau apapun itu. Saya sedih? Umm...mungkin tepatnya saya sirik. Saya ingin punya anak dan suami dan sebuah keluarga seperti mimpi yang pernah kami bangun. Mungkin itu tepatnya.

Dua tahun terlewati sejak kesalahan fatal yang ia buat, namum mimpi saya masih sama, meski wajah si suami dalam mimpi sudah saya hapus...bukan dia.
Tapi saya bahagia, karena ternyata mimpi saya masih hidup. Saya punya impian akan keluarga yang dilandasi Yesus Kristus. Saya imani perjalanan saya menuju mimpi itu harus lebih baik dari dia. Saya akan memulai sebuah keluarga baik-baik, saya tidak ingin kehilangan berkat Tuhan.

Kebetulan tadi saya chat dengan sahabat saya, dan saya menyelipkan kegalauan saya dalam intermezzo dialog kami. Dia bilang, orang itu harus bertanggung jawab dengan perbuatannya pris, dan kamu juga punya kehidupan yang harus kau pertanggung jawabkan.

Yah, thanx An. Aku memang sudah tidak lagi menyesali keadaan kami. Aku bersyukur karena Tuhan menunjukkan mana yang terbaik buatku, dengan cara terbaik menurut pandanganNya. Aku semakin yakin kalau , "I'm not a dreamer, I'm a believer"
Semangat Prisc, kamu layak mendapatkan upah dari mempertahankan imanmu!