Selamat Ulang Tahun, Pris!
Hahaha, oh tidak.. terakhir menulis bahkan dua tahun lalu. Saya memang keterlaluan, hahaha.
Usia saya kini diawali dengan angka tiga. Dan sebenarnya ada banyak sekali kisah yang ingin saya tuliskan di rumah ini. Ya, nanti lah. Pelan-pelan.
Okey, kita bahas tentang hari pertama di usia saya yang ke-31.
Am I happy?
Manusiawi saya akan berkata : iya sih, tapi.. bla bla bla.
Manusia yang tak pernah puas.
Puji Tuhan, sampai detik ini, orang tua saya masih lengkap dan sehat walafiat dan bahagia (sepengetahuan saya). Jikalau ada yang mereka sembunyikan atau ada permasalahan yang tak saya ketahui, semoga saya bisa diberi hikmat dan empati tergerak. Puji Tuhan, saya juga sehat, lebih tenang dan menguasai diri, punya kekasih yang baik hati dan sangat saya sayangi (dan juga menyayangi saya). Meski belum semua resolusi kehidupan tercapai, tapi ada langkah kecil yang nampak.
Ulang tahun. Kata orang, bertambahnya usia. Menua. Ya, semakin dekat juga pada kematian. Semakin berkurang waktu kita di dunia. Ada yang peduli sangat, hingga memplanningnya jauh-jauh hari apa saja yang ingin dilakukan sepanjang hari (mirip saya kala remaja). Ada yang peduli, tapi, ya... sudahlah, santai. Ada yang sama sekali tidak peduli bahkan lupa ulang tahunnya. Saya, untuk beberapa saat lupa kalau sudah memasuki Desember, dan mendekati ulang tahun saya. Tapi kekasih saya mengingatkannya, hehe.
Dibalik semua ungkapan syukur saya, tetap saja nyawa anak kecil ini masih hidup. Hahaha. Oh my God, ini sungguh memalukan untuk dituliskan. Tapi saya akan tetap menuliskannya, supaya kelak saya bisa mengukur perkembangan diri saya, dan supaya kelak anak-anak saya bisa melihat betapa lucu karakter ibunya. Hahaha. Jadiiii, tadi saya pulang segera seusai acara, sebelum jam 12 malam. Yaa, apalagi kalau bukan menanti ucapan dari orang-orang yang saya nanti (setiap tahunnya), orang tua dan kekasih saya. Hahaha. Saya berharap ada SURPRISEEEE! atau telepon tengah malam. Tapi ya, memang peruntungan saya tentang surprise itu selalu tidak berjalan kok.
Semuanya tetap tidak terjadi. Ya, saya berkomunikasi dengan kekasih saya, tapi tidak ada menyinggung ulang tahun. Hanya kegiatan masing-masing sepanjang hari... maklum, kami terpisah jarak. Apalagi orang tua saya, malah sudah tidur lelap. Sempat saya berpikir, mungkin kekasih saya atau Ayah saya yang sudah aktif di salah satu aplikasi social media menuliskan sesuatu disana. Semuanya tetap tidak terjadi.
Akhirnya saya menyalakan radio yang mulai memasang lagu-lagu natal, saya mulai melamun, saya teringat rumah ini dan saya kembali ingin menulis. Sembari membaca ucapan-ucapan dari teman-teman via social media serta membalas beberapa chat di ponsel saya. Senang? Tentu saja. Tapi tetap berbeda rasanya kalau orang-orang terdekat yang kita harapkan mengucapkan. Tiba-tiba saya tersenyum menertawakan diri saya sendiri, lalu menangis. Benar-benar swing mood ya.. Apalagi baca chat kekasih yang malah asik dengan sekitarnya. Bukan orang pertama yang mengucapkan. Sempat mau marah. Tapi ya.. kok kekanakan sekali kesannya. Akhirnya saya baca-baca tulisan saya yang lalu-lalu. Air mata saya terhenti ketika mengingat peristiwa dulu. Saat saya mengatakan kepada orang tua saya kalau saya ingin diucapkan oleh mereka dan diberi kue tart tepat jam 12 malam.. Ayah saya hanya bilang, "Dulu-dulu kamu nggak kayak gitu? Itu kan bukan kebiasaan dan kewajiban?", ditambah Ibu saya, "Lahirmu pun jam 11 malam lebih, jadi harusnya diucapkan menjelang tanggal 8". Ahahaha, serasa ditampar.
Ya, seharusnya saya tidak sekekanakan itu. Toh ucapan tepat jam 12 itu karena saya melihat teman-teman saya mendapatkan hal tersebut (dan saya iri, lalu ingin). Bukan sesuatu yang saya jadikan kerikil dalam hubungan saya. Bukan sebuah alasan untuk saya merengek-rengek ke orang tua saya. Toh ucapan manis dan umbar-umbar (istilahnya) bukan kebiasaan semua orang. Toh kalau mereka (siapapun itu) sibuk dan lupa mengucapkan adalah hal yang wajar dan manusiawi. Itulah kira-kira nasihat orangtua saya kala itu. Hati kecil saya sih pastinya masih ingin. Menyesal juga kadang tumbuh dalam packaging perempuan yang tak lembut dan feminim, jadinya gitu deh. Khayalan romantisnya suka dihardik. Hahaha, apes bener.
Ya, seharusnya saya memahami kalau cara setiap orang lain-lain. Apa yang penting bagi saya juga belum berarti penting bagi orang lain. Seharusnya saya juga memahami bahwa ucapan dan hadiah itu bukan tolok ukur kasih sayang seseorang (ngomongnya sambil nggak rela sih sebenarnya haha). Ya, kadang mau protes sih, buat apa juga ya saya pulang cepat, spesialkan hari, toh juga nggak ada apa-apa. Bukankah lebih baik saya keluar dengan teman-teman dan countdown my birthday? entahlah. Seperti sudah mendarah daging kalau family (and my partner) comes first.. (terlepas dari.. ya, saya masih berharap surprise haha)
Ya sudahlah. Sudah 31 ini. Berhenti berfantasi berlebih bagai negeri dongeng. Bersyukur atas apa yang sudah saya punya dan sudah terjadi dalam hidup saya. Maaf ya orang tua dan kekasihku, bukannya saya curhat ke publik tentang kalian. Kalaupun ada yang baca postingan ini, pastinya lebih menertawakan kekanakan saya, silakan.. Hahaha saya juga ketawa. Toh rumah ini juga jarang saya publish, boro-boro ada yang baca. Semua ini hanya catatan kecil buat anak-anak saya kelak. Jadi jangan laporkan saya dengan tuduhan pencemaran nama baik ya? Hahaha. Saya juga pernah dinasihati orang tua saya. Setiap kita memang spesial, tapi bukan berarti kita menuntut orang memperlakukan kita spesial selalu. Kita memang penting, tapi bukan berarti kita nomor satu dan prioritas di dunia ini. Maafkan kalau tadi saya sempat merasakan itu semua. Tidak semestinya untuk usia 31 hahaha.
Ya ampun, panjang bener ngomel sampai sadar-nya. Ini salah satu kado buatku, bisa menguasai diri lebih baik lagi. Makasih Tuhan buat semuanya! Selamat Ulang Tahun, Pris!
07 December 2015
06 December 2013
sejengkal cerita menuju 29
at
6:55 PM
Waktu itu kami bercerita banyak sampai tertawa terbahak - bahak.
Dia bertanya lagi, "Pris, masih ingat khayalanmu yang tengah malam, sang pujaan hati akan...", lalu saya memotong, "Yes! Hahaha".
Ceritanya dulu waktu pindah ke rumah ini, saya begitu senang dapat kamar paling depan, lengkap dengan jendela dan taman di depan.
Saya berkhayal kelak sang pria akan bermain gitar untuk membangunkan saya.
Lengkap juga membawa serta bunga matahari favorit saya.
Teman saya dulu bertanya, bagaimana memegang bunganya kalau sambil main gitar?
Trus bagaimana dia akan bernyanyi kalau dia menggigit bunganya sembari main gitar?
Trus bagaimana kalau kamu nggak bangun bangun?
Trus bagaimana kalau orangtuamu yang bangun? Satpam memergoki dia?
Trus bagaimana kalau dia nggak bisa nyanyi?
Trus bagaimana kalau kamu nggak suka lagunya?
Trus bagaimana kalau ternyata hujan?
Trus itu kala masih mau jadikan kekasih atau sudah jadi suami sih?
Trus itu buat melamar atau mengucapkan selamat ulang tahun?
Saya tersenyum mengingat khayalan itu.
Mungkin ini efek saya besar bersama kisah kisah disneyland, haha.
Mungkin khayalan selalu lebih indah dari realita.
Tapi saya percaya inti dari khayalan saya adalah perjuangan.
Begitu banyak pertanyaan lucu teman saya yang mungkin hanya bisa dijawab dengan, apa yang terlihat, bukan apa yang diperkatakan dan dijanjikan.
Suatu saat akan ada sosok yang memperjuangkan kita,
Mempertahankan kita sesulit apapun situasinya.
Meski malu, meski lelah, meski badai datang silih berganti.
Karena dia tahu kamu berharga.
Karena dia tahu kamu masa depannya :)
Selamat ulang tahun, Ruth. Kamu berharga!
Dia bertanya lagi, "Pris, masih ingat khayalanmu yang tengah malam, sang pujaan hati akan...", lalu saya memotong, "Yes! Hahaha".
Ceritanya dulu waktu pindah ke rumah ini, saya begitu senang dapat kamar paling depan, lengkap dengan jendela dan taman di depan.
Saya berkhayal kelak sang pria akan bermain gitar untuk membangunkan saya.
Lengkap juga membawa serta bunga matahari favorit saya.
Teman saya dulu bertanya, bagaimana memegang bunganya kalau sambil main gitar?
Trus bagaimana dia akan bernyanyi kalau dia menggigit bunganya sembari main gitar?
Trus bagaimana kalau kamu nggak bangun bangun?
Trus bagaimana kalau orangtuamu yang bangun? Satpam memergoki dia?
Trus bagaimana kalau dia nggak bisa nyanyi?
Trus bagaimana kalau kamu nggak suka lagunya?
Trus bagaimana kalau ternyata hujan?
Trus itu kala masih mau jadikan kekasih atau sudah jadi suami sih?
Trus itu buat melamar atau mengucapkan selamat ulang tahun?
Saya tersenyum mengingat khayalan itu.
Mungkin ini efek saya besar bersama kisah kisah disneyland, haha.
Mungkin khayalan selalu lebih indah dari realita.
Tapi saya percaya inti dari khayalan saya adalah perjuangan.
Begitu banyak pertanyaan lucu teman saya yang mungkin hanya bisa dijawab dengan, apa yang terlihat, bukan apa yang diperkatakan dan dijanjikan.
Suatu saat akan ada sosok yang memperjuangkan kita,
Mempertahankan kita sesulit apapun situasinya.
Meski malu, meski lelah, meski badai datang silih berganti.
Karena dia tahu kamu berharga.
Karena dia tahu kamu masa depannya :)
Selamat ulang tahun, Ruth. Kamu berharga!
06 November 2013
at
11:42 PM
Tadi saya pakai kemeja hijau bergaris yang kau suka.
Beberapa hari lalu saya nyaris mengenakannya,
Tapi saya pikir, saya ingin pakai untuk perform malam ini.
Antara supaya lebih percaya diri dan ceria,
Antara bisa merasakan kehadiranmu,
Dan saya ingin mendapatkan tatapan matamu kala itu,
Mendapati tulisanmu bahwa, saya cantik.
Tadi saya pakai kemeja hijau bergaris yang kau suka.
Saya tersenyum menunggu semangat darimu.
Sayang, kita tak bersua.
Tak ada yang mengatakan saya cantik hari ini.
Saya merindukanmu.
Beberapa hari lalu saya nyaris mengenakannya,
Tapi saya pikir, saya ingin pakai untuk perform malam ini.
Antara supaya lebih percaya diri dan ceria,
Antara bisa merasakan kehadiranmu,
Dan saya ingin mendapatkan tatapan matamu kala itu,
Mendapati tulisanmu bahwa, saya cantik.
Tadi saya pakai kemeja hijau bergaris yang kau suka.
Saya tersenyum menunggu semangat darimu.
Sayang, kita tak bersua.
Tak ada yang mengatakan saya cantik hari ini.
Saya merindukanmu.
15 August 2013
I just wanna remind you, Don't forget to write stories for kids..
at
6:09 PM
April 06, 2013
16 : 59
"Remind me to start writing.. Stories for kids.."
17 : 34
"Any stories.. Short stories for kids.. I used to think about this.. But I thought who needs this.. Tapi aku barusan ntn satu film, and i know now i must do this"
17 : 53
"Well.. I just want to write stories for kids.. Thats all i have in mind.. Share it on internet, they can read them for free.."
17 : 56
"Well for now all you have to do is to remind me all the time.. You know i always dont have the time.."
18 : 00
"First thing first, we need to do surveys on book stores.. See what most books for kids have stories for kids, and prices, poor kids also needs stories"
18 : 02
"We will share them only on internet.. Stories that will tell them that they are not alone.. Any parents could read them for their kids.."
18 : 03
"We will have to do some surveys on internet too.. Hey if this could go.. We can ask other writers to tag along.."
18 : 04
"I could ask some illustrators from office to help, but thats next agenda, i hope i could write for kids.."
18 : 07
"I mean.. I write songs for my band.. Profiles for companies and corporations.. why not for kids? They also need a proper input for their age right?"
I love the way you called : WE :)
remember our passion?
This is why I thank my God for you.
I just wanna remind you, Don't forget to write stories for kids..
16 : 59
"Remind me to start writing.. Stories for kids.."
17 : 34
"Any stories.. Short stories for kids.. I used to think about this.. But I thought who needs this.. Tapi aku barusan ntn satu film, and i know now i must do this"
17 : 53
"Well.. I just want to write stories for kids.. Thats all i have in mind.. Share it on internet, they can read them for free.."
17 : 56
"Well for now all you have to do is to remind me all the time.. You know i always dont have the time.."
18 : 00
"First thing first, we need to do surveys on book stores.. See what most books for kids have stories for kids, and prices, poor kids also needs stories"
18 : 02
"We will share them only on internet.. Stories that will tell them that they are not alone.. Any parents could read them for their kids.."
18 : 03
"We will have to do some surveys on internet too.. Hey if this could go.. We can ask other writers to tag along.."
18 : 04
"I could ask some illustrators from office to help, but thats next agenda, i hope i could write for kids.."
18 : 07
"I mean.. I write songs for my band.. Profiles for companies and corporations.. why not for kids? They also need a proper input for their age right?"
I love the way you called : WE :)
remember our passion?
This is why I thank my God for you.
I just wanna remind you, Don't forget to write stories for kids..
9.5.2013
at
6:07 PM
02 : 36 a.m Menunggu kabar. Menunggu kepulanganmu.
"Eh lupa ngabarin tadi uda nyampe rumah sejak jam 1.. Sekarang lagi ntn Chelseaaa.. Aku kirim foto hadiah ultah bapak di bbm".
Many times I re-read just to make sure.
Saya tidak salah baca.
Bukan saya yang menyebutnya hadiah ultah.
Yang diartikan paksaan itu sebenarnya niat baik saya.
Tapi memang niat baik tidak selalu ditanggapi baik.
Itulah resiko.
Tolong berhenti melihat saya dengan kacamata negatif.
Tolong buang semua prasangka buruk.
JUST STOP!
Sekarang saya hanya ingin mengetiknya ulang di blog.
Bukan karena dendam. Bukan untuk mengingat yang lalu lalu.
Hanya untuk menghapus ketakutan saya.
Ketakutan saya ketika gertakan itu kau hembuskan.
Saya menghapus tulisan itu.
Saya berusaha memaafkan kamu,
terutama.... diri saya.
"Eh lupa ngabarin tadi uda nyampe rumah sejak jam 1.. Sekarang lagi ntn Chelseaaa.. Aku kirim foto hadiah ultah bapak di bbm".
Many times I re-read just to make sure.
Saya tidak salah baca.
Bukan saya yang menyebutnya hadiah ultah.
Yang diartikan paksaan itu sebenarnya niat baik saya.
Tapi memang niat baik tidak selalu ditanggapi baik.
Itulah resiko.
Tolong berhenti melihat saya dengan kacamata negatif.
Tolong buang semua prasangka buruk.
JUST STOP!
Sekarang saya hanya ingin mengetiknya ulang di blog.
Bukan karena dendam. Bukan untuk mengingat yang lalu lalu.
Hanya untuk menghapus ketakutan saya.
Ketakutan saya ketika gertakan itu kau hembuskan.
Saya menghapus tulisan itu.
Saya berusaha memaafkan kamu,
terutama.... diri saya.
at
2:24 PM
Semalam saya memuaskan hasrat menonton film-film yang terpendam. Saya nonton "The Girl In the Park". Sound famous? Dunno. Tertarik karena cover DVDnya. Ceritanya simple, drama. Tapi sepertinya memang saya "diarahkan" untuk nonton film ini. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, hal sekecil apapun.
Intinya seorang Ibu yang kehilangan putri kecilnya di taman, selama 16 tahun berjalan, ia bercerai, mantan suami dan anak sulungnya menganggap ia aneh. Ia mengalami fase yang... entahlah, saya berempati, bukan sekedar simpati. Saya bisa merasakan dia hidup, berjalan, melakukan segalanya bagai hidup normal tapi ia MATI.
Terlepas dari hal-hal yang seharusnya kita lakukan untuk kembali hidup, seperti berdoa dan berusaha back on track, intimacy with God, ternyata ada hal lain yang saya soroti.
Film ini seperti menampar saya.
Saya belajar, saya tidak akan 'menolak' jika ibu saya mengenang kakak saya. Ataupun luka yang saya alami pribadi, dan orang-orang disekitar saya yang terluka. Perasaan sedih itu bukan untuk ditolak atau dipendam. Biarkan dikeluarkan sampai lega, biarkan dibicarakan terus sampai puas, terkadang tugas saya hanya mendengarkan dan mengarahkan agar tak berlarut. Saya bukan seorang psikolog, pun tak pernah belajar secara akademis.
Saya percaya tidak ada seorangpun yang berencana menjadi orang gila, depresi atau trauma. Tidak ada orang yang ingin hidup dengan memeluk luka batin. Tidak ada orang ingin melewati 16 tahun dengan sia sia, berpura-pura seakan akan semuanya baik-baik saja, tapi ia mati di dalamnya.
Saya bukanlah orang yang pandai untuk memberikan solusi dalam hal ini karena saya pun tengah bergulat untuk hal itu. Selain let God, mungkin saya hanya ingin bilang :
Sekecil apapun perasaan orang, atau se-tidak penting- menurutmu- apapun perasaan orang, jangan mengabaikannya. Mungkin apa yang tidak penting bagimu, tapi penting dan segalanya baginya.Saling mendampingi, belajar menyampaikan perasaan terluka yang kita miliki dan juga belajar mendengarkan.
Setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda, dan waktu penyembuhan yang berbeda. Tapi percayalah, hati kecil mereka selalu ingin cepat sembuh dari fase itu, termasuk saya.
a warm hug, sincere smile and kiss on forehead.... feel better :)
Intinya seorang Ibu yang kehilangan putri kecilnya di taman, selama 16 tahun berjalan, ia bercerai, mantan suami dan anak sulungnya menganggap ia aneh. Ia mengalami fase yang... entahlah, saya berempati, bukan sekedar simpati. Saya bisa merasakan dia hidup, berjalan, melakukan segalanya bagai hidup normal tapi ia MATI.
Terlepas dari hal-hal yang seharusnya kita lakukan untuk kembali hidup, seperti berdoa dan berusaha back on track, intimacy with God, ternyata ada hal lain yang saya soroti.
Film ini seperti menampar saya.
Saya belajar, saya tidak akan 'menolak' jika ibu saya mengenang kakak saya. Ataupun luka yang saya alami pribadi, dan orang-orang disekitar saya yang terluka. Perasaan sedih itu bukan untuk ditolak atau dipendam. Biarkan dikeluarkan sampai lega, biarkan dibicarakan terus sampai puas, terkadang tugas saya hanya mendengarkan dan mengarahkan agar tak berlarut. Saya bukan seorang psikolog, pun tak pernah belajar secara akademis.
Saya percaya tidak ada seorangpun yang berencana menjadi orang gila, depresi atau trauma. Tidak ada orang yang ingin hidup dengan memeluk luka batin. Tidak ada orang ingin melewati 16 tahun dengan sia sia, berpura-pura seakan akan semuanya baik-baik saja, tapi ia mati di dalamnya.
Saya bukanlah orang yang pandai untuk memberikan solusi dalam hal ini karena saya pun tengah bergulat untuk hal itu. Selain let God, mungkin saya hanya ingin bilang :
Sekecil apapun perasaan orang, atau se-tidak penting- menurutmu- apapun perasaan orang, jangan mengabaikannya. Mungkin apa yang tidak penting bagimu, tapi penting dan segalanya baginya.Saling mendampingi, belajar menyampaikan perasaan terluka yang kita miliki dan juga belajar mendengarkan.
Setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda, dan waktu penyembuhan yang berbeda. Tapi percayalah, hati kecil mereka selalu ingin cepat sembuh dari fase itu, termasuk saya.
a warm hug, sincere smile and kiss on forehead.... feel better :)
30 July 2013
sofa itu.
at
5:19 PM
Malam itu saya keluar kamar.
Duduk sendiri di ruang tamu dan menatap sekeliling.
Mengingat-ingat setiap detiknya.
Ya, saya tahu itu juga tidak baik.
Tidak membuat saya melanjutkan kehidupan.
Lalu saya mendapati sofa kotak di ruang tamu.
Saya menatapnya lekat-lekat.
Mengingat setiap detiknya, menikmatinya dengan senyum dan air mata.
Disitu saya melihat ketika ia bersimpuh di kaki saya.
Ia meminta maaf dan berusaha membereskan kesalahan masa lalu.
Ia menunduk bersimpuh dan menggenggam jemari saya erat-erat.
Sungguh saya tidak menduga peristiwa itu terjadi.
Ia meminta maaf.
Bahkan jauhhh setelah saya memaafkan dan membangun tembok untuknya.
Saya duduk terpaku.
Ia merengkuh saya dalam pelukannya, dan mencium kening saya.
Saya hanya berkata, "Saya sudah memaafkanmu dari dulu".
Saya balas memeluknya.
Apa yang saya rasakan dalam hati saya?
Terimakasih Tuhan. Inilah sosok yang saya kenal dulu.
Waktu terus berjalan,
Disitu pula ia merengkuh saya dalam pangkuannya.
Kami berbicara tentang cita-cita.
Kami bercanda tawa menantang masa depan.
Why me?
Because I knew you're the one since the first time.
Why me?
I knew you're goin' to be a great wife for me.
Saya terlelap dalam pelukannya.
Apa yang saya rasakan?
I feel peace.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Saya membersihkan diri dan berdandan cantik.
Saya memunculkan cerita-cerita agar malam itu tak hening.
Namun terkadang ia membungkam mulut saya dengan cintanya.
Lalu kami membaur dengan keheningan.
Tidak ada cerita, hanya diam berdua di sofa.
Indah dan tenang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Ia tak kunjung datang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya bermasalah dan merasa sendiri.
Ia tak kunjung datang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya merindukannya.
Ia datang, tapi dingin.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya marah.
Tapi saya mengingat hari pertama itu.
Mengingat mimpi dan janji kita.
Menantang masa depan!
Sampai saya tertidur sendiri.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Ia datang dan bercerita bahwa ia tidak akan lagi duduk di sofa itu.
Malam itu,
Saya berdiri dari sofa dan menatap cermin tepat diatas sofa itu.
Saya melihat sisa sisa air mata yang telah mengering.
Saya mengatur saraf-saraf senyum perlahan untuk membingkai wajah saya.
Malam itu, cermin berkata pada saya,
"Tidak seharusnya kamu membuka pintu kedua kalinya, menyesal kan?"
Saya menatap cermin dan berkata,
"Ketika kami berpisah dulu, saya pernah berdoa,
Jika memang kami harus bersatu, Engkau pasti akan membuka pintu,
namun jika tidak, jangan pernah pertemukan kami lagi."
Dan, kami bertemu.
Membuka pintu untuk kedua kalinya tidaklah mudah.
Itu bertaruh nyawa setelah saya pernah mati.
Saya merawatnya karena kesempatan kedua adalah berharga.
Tidak semua layak mendapatkannya.
Dan tidak semua mempercayainya.
Termasuk saya.
Cermin berkata, "Kamu salah berdoa".
Saya menjawab, "Mungkin".
Saya melangkah dengan senyum kembali ke kamar.
Ya. saya tersenyum.
Kali ini saya berdoa, "Tuhan... Tuhan...".
PS : cerita ini fiksi semata. cerita nyata bagi dunia lain.
Duduk sendiri di ruang tamu dan menatap sekeliling.
Mengingat-ingat setiap detiknya.
Ya, saya tahu itu juga tidak baik.
Tidak membuat saya melanjutkan kehidupan.
Lalu saya mendapati sofa kotak di ruang tamu.
Saya menatapnya lekat-lekat.
Mengingat setiap detiknya, menikmatinya dengan senyum dan air mata.
Disitu saya melihat ketika ia bersimpuh di kaki saya.
Ia meminta maaf dan berusaha membereskan kesalahan masa lalu.
Ia menunduk bersimpuh dan menggenggam jemari saya erat-erat.
Sungguh saya tidak menduga peristiwa itu terjadi.
Ia meminta maaf.
Bahkan jauhhh setelah saya memaafkan dan membangun tembok untuknya.
Saya duduk terpaku.
Ia merengkuh saya dalam pelukannya, dan mencium kening saya.
Saya hanya berkata, "Saya sudah memaafkanmu dari dulu".
Saya balas memeluknya.
Apa yang saya rasakan dalam hati saya?
Terimakasih Tuhan. Inilah sosok yang saya kenal dulu.
Waktu terus berjalan,
Disitu pula ia merengkuh saya dalam pangkuannya.
Kami berbicara tentang cita-cita.
Kami bercanda tawa menantang masa depan.
Why me?
Because I knew you're the one since the first time.
Why me?
I knew you're goin' to be a great wife for me.
Saya terlelap dalam pelukannya.
Apa yang saya rasakan?
I feel peace.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Saya membersihkan diri dan berdandan cantik.
Saya memunculkan cerita-cerita agar malam itu tak hening.
Namun terkadang ia membungkam mulut saya dengan cintanya.
Lalu kami membaur dengan keheningan.
Tidak ada cerita, hanya diam berdua di sofa.
Indah dan tenang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Ia tak kunjung datang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya bermasalah dan merasa sendiri.
Ia tak kunjung datang.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya merindukannya.
Ia datang, tapi dingin.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya marah.
Tapi saya mengingat hari pertama itu.
Mengingat mimpi dan janji kita.
Menantang masa depan!
Sampai saya tertidur sendiri.
Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Ia datang dan bercerita bahwa ia tidak akan lagi duduk di sofa itu.
Malam itu,
Saya berdiri dari sofa dan menatap cermin tepat diatas sofa itu.
Saya melihat sisa sisa air mata yang telah mengering.
Saya mengatur saraf-saraf senyum perlahan untuk membingkai wajah saya.
Malam itu, cermin berkata pada saya,
"Tidak seharusnya kamu membuka pintu kedua kalinya, menyesal kan?"
Saya menatap cermin dan berkata,
"Ketika kami berpisah dulu, saya pernah berdoa,
Jika memang kami harus bersatu, Engkau pasti akan membuka pintu,
namun jika tidak, jangan pernah pertemukan kami lagi."
Dan, kami bertemu.
Membuka pintu untuk kedua kalinya tidaklah mudah.
Itu bertaruh nyawa setelah saya pernah mati.
Saya merawatnya karena kesempatan kedua adalah berharga.
Tidak semua layak mendapatkannya.
Dan tidak semua mempercayainya.
Termasuk saya.
Cermin berkata, "Kamu salah berdoa".
Saya menjawab, "Mungkin".
Saya melangkah dengan senyum kembali ke kamar.
Ya. saya tersenyum.
Kali ini saya berdoa, "Tuhan... Tuhan...".
PS : cerita ini fiksi semata. cerita nyata bagi dunia lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)