18 March 2010

Munafik, rindu, dan doa.

Tuesday, November 17, 2009 at 12:34pm . Salah satu note saya di facebook :)

Dulu pernah ada yang bertanya pada saya.
“Kamu kangen nggak sih sama aku?”
Saya jawab,”Iya”.
Dalam hati, bagaimana mungkin saya tidak merindukannya.
Kala itu saya mencintainya.
Saya selalu punya rindu untuknya.
Saya sering menahan rindu hanya karena saya takut mengganggunya.

Dia melanjutkan, “Mana buktinya?”
Saya bingung, bagaimana harus mengatakannya.
Apa semua perbuatan saya tidak menunjukkan kerinduan?
Sejenak saya diam.
Belum sempat saya menjawab, dia berkata lagi,
“Sudah, lupain aja. Sekarang apa sih yang kamu lakuin kalo kangen? Mana buktinya?”
Saya masih diam.
Saya menyahut pelan, “Aku berdoa”
Dia melihat dengan tatapan aneh, apalagi saya.
Saya sendiri kaget dengan jawaban saya.
Mungkin itu bukan jawaban yang dia harapkan.
Tapi buat apa saya berbohong.
Saya memang melakukannya.

Saya bingung mengartikan raut wajahnya.
Ada kaget, cibiran, kejengkelan, kecewa, semua jadi satu.
Yang saya cerna hanya,
Saya dipanggil pendeta dan munafik.
Heran…
Orang berdoa dipanggil pendeta.
Orang jujur dibilang munafik.

Padahal, doa itu menunjukkan betapa lemahnya saya.
Saya minta Tuhan menjaga komitmen saya.
Saya takut berbuat aneh-aneh hanya karena rindu.
Saya sudah tidak ada uang dan media untuk menyampaikan isi hati.
Saya taruh kepercayaan saya ke Pencipta untuk menyampaikan rindu saya.
Saya percaya pasti pesan saya sampai kepadanya.
Saya kirimkan doa itu seperti bernafas.

Ternyata,
Jauh lebih baik baginya jika mendengar,
“Iya nih, aku sampe ngutang duit pulsa buat telepon kamu”
“Mending aku mati aja kalo nggak ketemu kamu…”
Dan segenap basa-basi yang sebenarnya tidak dilakukan.
Segenap basa basi dilengkapi pengkhianatan.
Saya harus sekolah acting dong biar bisa bicara begitu!

Dia tidak melihat kekuatan doa.
Lihat apa yang Tuhan lakukan untuk mengobati rindu,
Mestinya ia bersyukur.
Pekerjaan yang menghasilkan uang untuk beli pulsa.
Perasaan rindu, bukannya kebosanan.
Komitmen yang dijagai Tuhan.
Perhatian-perhatian kecil meski tanpa kata rindu.
Doa menjauhkan saya dari mencari obat rindu selain dia.
Haruskah rindu itu diucapkan?
Harus memang, saya akui, apalagi untuk perempuan.
Tapi tidak setiap saat hingga akhirnya jadi hambar dan kewajiban semata.
Tatapan mata, sentuhan kecil, note kecil, kejutan kecil.
Juga doa untuknya.
Seharusnya dia bersyukur.
Tapi dia tidak mengerti.
Lucunya, dia menuntut yang ia juga tak lakukan buat saya.
Bagaimana mungkin saya melihat, merasakan saja tidak.
Sendirinya tidak berusaha untuk saya.

Dia tetap mengecap saya munafik.
Padahal, memang benar, jika merindukannya, saya berdoa.
Agar ia terus dijagai, agar cintanya tidak mati.
Payah..
Karena kamu meremehkan, akhirnya kamu mati kan?
Sekarang saya tetap berdoa,
Bukan untuk menyampaikan rindu saya.
Tapi supaya dia bisa berdoa.


(Dialog yang tidak berujung tapi selalu kuingat,
untuk menepis bahwa saya munafik)

komentator, orang-orang yang saya cintai :
Nuansa Herwindo : Munafik bisa bermacam-macam dan punya takarannya. semua manusia di lilitin kemunafikan. kita musti paham betul.
miris ya kalo musti inget kata-kata itu. kamu musti bangga dengan keadaan kamu yang sek,bukan karena dia. karena kamu bis berbagi semua ini dengan keluarga kamu.. mereka lah yang memebuat kamu berhasil berjalan tegak dengan kepala di atas. BRAVO(bukan motor ya cil)
November 17, 2009 at 1:33pm ·

Ruth Priscilla Hutubessy haha, itu REVO!!! motor bapakku :D
iya, keluarga adalah supporter terbesarku. pantes dia tdk diterima keluargakuuu,hihihi. ternyataaaa...
makasiiiiii ndolll, kamu bacain note2ku yaaaa? makasiiii supportnya juga, saya bangga dengan proses yg membuatku lbh kuat :D
November 17, 2009 at 2:29pm ·

Putiarsa Bagus Wibowo Dibalik tampangnya yg garang trnyt km cukup religius ya sil? Hehehe.. Tetaplah berdoa dan merindu.. *halah opo seh xixixi
November 18, 2009 at 12:32am ·

Ruth Priscilla Hutubessy masa sih aku religius??
*sambil mengunyah daging manusia dan bawa sabit berdarah-darah*
haha..tuh kan, digudoi..pdhl aku wes ngomong, doa itu menunjukkan kelemahan kita & kebergantungan kpd Tuhan. bukan religius lah..ada tertulis, "Doa itu nafas hidup org Kristen", di agamaku lho yo...
thanks yah sa for reading..malu akuuuu :)
November 18, 2009 at 9:45am ·

Alfiana Stevani Pontoh wooww, br bc krn tdk sadar ada yg nge-post note tp ngga ditag ke org2. hehe. jujur, pas bc smpt ada rasa merinding sih krn tau yg buat ini adlh seseorg yg kukenal. hehehe. brasa aneh plus merinding. hihihi.
well, munafik, rindu, n doa... berat bgt bahasan ini... smua tergatung ke msg2 pribadi gmn buat nanggepin ini smua... kalo smuanya uda ngga ... See Moretulus, uda ngga ada komitmen, apalg yg mau dipertahanin?!? yg ada jatuh2nya pasti tetep negatif smua yg uda dilakuin... pd akhirnya... qta hny bisa balik ke Yg Di Atas. Berdoa. Share ama keluarga. Bersyukur krn masi ada keluarga yg bisa jd 'shelter' qta dui saat 'hujan' dtg. we can make it thru d rain, rite?!? ...n d rainbow will come up :)
November 18, 2009 at 2:56pm ·

Ruth Priscilla Hutubessy hehe, malu sekali kl ditag org2..heee,emang saya hantu mpe bikin merinding??
bener, sebuah hubungan harus ada komitmen, means, fondasinya juga 2. kalo salah 1 rindu dan fight, 1 nya cuman mau nerima tanpa fight, apa gunanya??
yup, sist, thanks for sharing n reading it..kiss kiss for u! love u! all the best for us, we deserve to accept God's promise..
November 18, 2009 at 3:19pm ·

No comments:

Post a Comment

write down, please :