Hey, this gonna be my 1st post on April :)
This post based on Oprah Winfrey show (Metro TV) at April 10, 2010.
Percaya atau tidak, yeah...saya memang mudah tersentuh. Saya menangis menonton talkshow ini. Hubungan ibu dan anak memang sangat indah. Tak akan terganti.
Tema saat itu membahas anak-anak yang sering 'ditindas' oleh rekan-rekan sekolahnya, baik senior atau sebaya. Biasa terjadi pada anak-anak yg susah bergaul, memiliki kecenderungan 'berbeda' dari lainnya, atau kutu buku. Korban bullying sampai nekat bunuh diri. Di Amerika, presentasenya cukup besar, sampai harus ada wadah yang memfasilitasi untuk mengurangi korbannya. Rata-rata ditenagai oleh psikolog dan orang-orang yang terbeban secara sosial dan moril. (meski saya bukan psikolog, saya berharap andai saya bisa membantu...)
Saya menangis ketika melihat ibu-ibu itu bercerita menemukan anak-anaknya bunuh diri dengan cara gantung diri. Anak-anak kecil itu ada yang dihina homo, kutu buku, aneh, etc. Ada yang karena anak cowok tapi punya hobby dance. Ada yang karena tidak pernah pacaran. Ada juga hanya karena anak baru. Saya menutup wajah dengan bantal, sedih, dan memikirkan cara apa yang harus saya lakukan jika untuk anak saya kelak. *haha, too fast, ey?*. maklum, pecinta anak kecil :)
Saya sempat flashback ke masa kecil saya. Saya rasa bullying di Indonesia, belum separah di Amerika. Atau mungkin saya yang terlalu beruntung karena tidak pernah mengalaminya.
Coba, saya ingat-ingat lagi.
Apa saya tidak mengalami hal-hal yang buruk? You're wrong. Dulu, saya pernah merasakan menjadi satu-satunya anak yang paling kurus dan tinggi menjulang sekelas.. dengan rambut berombaknya yang merah. Such a weirdo! Dijuluki turis kesasar, dan sejenisnya. Kau pikir saya tidak tersiksa? Ketika semua bercerita pergi ke mall dengan mobil, sementara keluarga saya tak melakukannya, bahkan mobil pun tak punya. Kau pikir saya tak menginginkannya? Tapi saya tak berusaha menuntut orang tua saya. Saya diam. Saya cukup cekatan untuk menghapus pemikiran buruk itu berkepanjangan.
Saya juga pernah menjadi anak baru saat SD. Ingin rasanya itu tidak terjadi. Meski sekolah yang lama juga tidak cukup menyenangkan untuk mental saya. Saya sekarang tidak menyalahkan siapa-siapa sih, itu hanya ketidak siapan mental saja saat itu.
Saat jadi anak baru, saya duduk sebangku dengan rekan pria yang pendiam. Ternyata dia tidak terlalu menyukai saya, karena suka dijodoh-jodohin *biasa lah, kalo anak baru kan suka digojlok gojlokin : "ihiii...temen sebangkunya naksir"*. Dia makin tidak menyukai saya setiap ejekan itu timbul. Atau mungkin dia segan dengan ukuran tinggi badan saya, jadi impas. Dia tak juga bisa berbuat apa-apa. haha. Saat itu tapi saya lelah secara mental. Jadi malas sekolah. Tapi tidak berkepanjangan, karena intinya saya suka berkegiatan dan saya suka sekolah :) *good girl*
Hal yang memalukan lagi akan saya umbar. Namanya juga masa puber, saya menderita jerawatan di wajah, dan bau badan. Setelah dengan hobby saya yang gigit-gigit kuku. Sekarang saya menganggap itu masa-masa wajar, apalagi polah gerak saya seperti anak laki-laki dibanding yang lain. Tapi buat saya dulu, Oh NOOOO! saya sampai dijuluki aneh-aneh dulu. Pernah ditusuk dari belakang sama teman-teman dekat saya sendiri, tapi masih ada teman baik lainnya. Aneh-aneh lah! Saya malu, tapi terus menerus berusaha bangkit. Selalu mencari kelebihan dibalik kekurangan. Saya rindu semangat itu, sekarang kok kurang dibanding dulu?
Pernahkah kau merasakan memiliki seorang kakak laki-laki yang tidak 'sehebat' dirimu, tidak 'senormal' dirimu, tidak 'secerdas' dirimu, dan tidak menjalankan perannya yang seharusnya melindungi dan memanjakanmu? Ketika ia menjadi korban bullying, sayalah yang berkelahi untuknya. Sayalah yang berteriak membalas cacian mereka. Namun saya juga membentaknya karena tidak menopang saya. Dan saya menjadi satu paket korban bullying bersamanya.
Sedikit banyak saya mengerti perasaan menjadi korban. Bersyukurnya saya diberkahi kemampuan untuk melawannya. Saya tidak ingin membahas pihak-pihak pelaku, karena mereka sudah pasti salah.
Yang ingin saya bahas adalah bagaimana kita menolong mereka, para korban. Tidak semua orang seberuntung saya yang cekatan melawan. Apa yang harus kau lakukan? Cintailah mereka, buat mereka merasa nyaman dan aman bersamamu ataupun tanpa ada dirimu secara fisik. Berusahalah menjadi sahabat sejati bagi mereka. Tak kalah penting, jangan abaikan keluh kesah mereka. Jangan suruh mereka mengabaikannya!!
Mudah untuk berbicara bagi orang yang telah melewati masa-masa kecil itu. Orang tua saya menyuruh saya tidak mendengarkan ejekan-ejekan teman, namun beruntungnya, mereka juga memperlengkapi saya dengan kekuatan untuk melawan. Sehingga saya juga mencari obat untuk sakit hati saya serta pelarian yang positif -bagi saya-.
Saat ini saya terus berusaha melatih diri untuk kelak jika saya jadi orang tua nanti. Saya sadari, saya tidak bisa selalu ada disamping mereka, saya tidak bisa menghukum satu persatu pelaku bullying. May i say, itu sudah masanya. Yang harus saya persiapkan adalah menjadi pendengar yang baik, berempati dan tidak menyuruhnya untuk mengabaikan itu semua. Tapi melawan. Perlengkapilah mereka. Biarkan mereka bebas bercerita apa yang mereka rasakan. Berbagilah pengalaman bersama mereka. Hargailah perasaan mereka. Ajarilah mereka untuk melawannya dengan menunjukkan kehebatan diri mereka masing-masing. Namun adakalanya jika mereka bercerita, mereka tak ingin mendengarkan apapun, mereka hanya ingin kepuasan untuk didengar itu terpenuhi. Yah..macam-macam cara. Saya akan berusaha sebaik mungkin.
Karena saya bersaudara dengan seseorang yang pernah mengalami bullying dan masih mengingat traumanya. Karena saya mengenal orang-orang yang berusaha menjadi jahat dan buruk untuk melampiaskan amarah mereka sebagai korban bullying di masa lalu, padahal kedalaman hati mereka tidak seperti itu. Karena saya tahu perihnya air mata yang diteteskan ibu-ibu yang saya tonton di talkshow siang itu. Karena saya mengerti sakitnya kehilangan orang yang kita cintai....