30 July 2013

sofa itu.

Malam itu saya keluar kamar.
Duduk sendiri di ruang tamu dan menatap sekeliling.
Mengingat-ingat setiap detiknya.
Ya, saya tahu itu juga tidak baik.
Tidak membuat saya melanjutkan kehidupan.

Lalu saya mendapati sofa kotak di ruang tamu.
Saya menatapnya lekat-lekat.
Mengingat setiap detiknya, menikmatinya dengan senyum dan air mata.

Disitu saya melihat ketika ia bersimpuh di kaki saya.
Ia meminta maaf dan berusaha membereskan kesalahan masa lalu.
Ia menunduk bersimpuh dan menggenggam jemari saya erat-erat.
Sungguh saya tidak menduga peristiwa itu terjadi.
Ia meminta maaf.
Bahkan jauhhh setelah saya memaafkan dan membangun tembok untuknya.
Saya duduk terpaku.
Ia merengkuh saya dalam pelukannya, dan mencium kening saya.
Saya hanya berkata, "Saya sudah memaafkanmu dari dulu".
Saya balas memeluknya.

Apa yang saya rasakan dalam hati saya?
Terimakasih Tuhan. Inilah sosok yang saya kenal dulu.

Waktu terus berjalan,
Disitu pula ia merengkuh saya dalam pangkuannya.
Kami berbicara tentang cita-cita.
Kami bercanda tawa menantang masa depan.
Why me?
Because I knew you're the one since the first time.
Why me?
I knew you're goin' to be a great wife for me.
Saya terlelap dalam pelukannya.
Apa yang saya rasakan?
I feel peace.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Saya membersihkan diri dan berdandan cantik.
Saya memunculkan cerita-cerita agar malam itu tak hening.
Namun terkadang ia membungkam mulut saya dengan cintanya.
Lalu kami membaur dengan keheningan.
Tidak ada cerita, hanya diam berdua di sofa.
Indah dan tenang.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu.
Ia tak kunjung datang.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya bermasalah dan merasa sendiri.
Ia tak kunjung datang.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya merindukannya.
Ia datang, tapi dingin.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Saya marah.
Tapi saya mengingat hari pertama itu.
Mengingat mimpi dan janji kita.
Menantang masa depan!
Sampai saya tertidur sendiri.

Waktu terus berjalan,
Saya menanti kedatangannya di sofa itu,
Ia datang dan bercerita bahwa ia tidak akan lagi duduk di sofa itu.

Malam itu,
Saya berdiri dari sofa dan menatap cermin tepat diatas sofa itu.
Saya melihat sisa sisa air mata yang telah mengering.
Saya mengatur saraf-saraf senyum perlahan untuk membingkai wajah saya.

Malam itu, cermin berkata pada saya,
"Tidak seharusnya kamu membuka pintu kedua kalinya, menyesal kan?"
Saya menatap cermin dan berkata,
"Ketika kami berpisah dulu, saya pernah berdoa,
Jika memang kami harus bersatu, Engkau pasti akan membuka pintu,
namun jika tidak, jangan pernah pertemukan kami lagi."

Dan, kami bertemu.
Membuka pintu untuk kedua kalinya tidaklah mudah.
Itu bertaruh nyawa setelah saya pernah mati.
Saya merawatnya karena kesempatan kedua adalah berharga.
Tidak semua layak mendapatkannya.
Dan tidak semua mempercayainya.
Termasuk saya.

Cermin berkata, "Kamu salah berdoa".
Saya menjawab, "Mungkin".

Saya melangkah dengan senyum kembali ke kamar.
Ya. saya tersenyum.
Kali ini saya berdoa, "Tuhan... Tuhan...".







PS : cerita ini fiksi semata. cerita nyata bagi dunia lain.