Selamat Ulang Tahun, Pris!
Hahaha, oh tidak.. terakhir menulis bahkan dua tahun lalu. Saya memang keterlaluan, hahaha.
Usia saya kini diawali dengan angka tiga. Dan sebenarnya ada banyak sekali kisah yang ingin saya tuliskan di rumah ini. Ya, nanti lah. Pelan-pelan.
Okey, kita bahas tentang hari pertama di usia saya yang ke-31.
Am I happy?
Manusiawi saya akan berkata : iya sih, tapi.. bla bla bla.
Manusia yang tak pernah puas.
Puji Tuhan, sampai detik ini, orang tua saya masih lengkap dan sehat walafiat dan bahagia (sepengetahuan saya). Jikalau ada yang mereka sembunyikan atau ada permasalahan yang tak saya ketahui, semoga saya bisa diberi hikmat dan empati tergerak. Puji Tuhan, saya juga sehat, lebih tenang dan menguasai diri, punya kekasih yang baik hati dan sangat saya sayangi (dan juga menyayangi saya). Meski belum semua resolusi kehidupan tercapai, tapi ada langkah kecil yang nampak.
Ulang tahun. Kata orang, bertambahnya usia. Menua. Ya, semakin dekat juga pada kematian. Semakin berkurang waktu kita di dunia. Ada yang peduli sangat, hingga memplanningnya jauh-jauh hari apa saja yang ingin dilakukan sepanjang hari (mirip saya kala remaja). Ada yang peduli, tapi, ya... sudahlah, santai. Ada yang sama sekali tidak peduli bahkan lupa ulang tahunnya. Saya, untuk beberapa saat lupa kalau sudah memasuki Desember, dan mendekati ulang tahun saya. Tapi kekasih saya mengingatkannya, hehe.
Dibalik semua ungkapan syukur saya, tetap saja nyawa anak kecil ini masih hidup. Hahaha. Oh my God, ini sungguh memalukan untuk dituliskan. Tapi saya akan tetap menuliskannya, supaya kelak saya bisa mengukur perkembangan diri saya, dan supaya kelak anak-anak saya bisa melihat betapa lucu karakter ibunya. Hahaha. Jadiiii, tadi saya pulang segera seusai acara, sebelum jam 12 malam. Yaa, apalagi kalau bukan menanti ucapan dari orang-orang yang saya nanti (setiap tahunnya), orang tua dan kekasih saya. Hahaha. Saya berharap ada SURPRISEEEE! atau telepon tengah malam. Tapi ya, memang peruntungan saya tentang surprise itu selalu tidak berjalan kok.
Semuanya tetap tidak terjadi. Ya, saya berkomunikasi dengan kekasih saya, tapi tidak ada menyinggung ulang tahun. Hanya kegiatan masing-masing sepanjang hari... maklum, kami terpisah jarak. Apalagi orang tua saya, malah sudah tidur lelap. Sempat saya berpikir, mungkin kekasih saya atau Ayah saya yang sudah aktif di salah satu aplikasi social media menuliskan sesuatu disana. Semuanya tetap tidak terjadi.
Akhirnya saya menyalakan radio yang mulai memasang lagu-lagu natal, saya mulai melamun, saya teringat rumah ini dan saya kembali ingin menulis. Sembari membaca ucapan-ucapan dari teman-teman via social media serta membalas beberapa chat di ponsel saya. Senang? Tentu saja. Tapi tetap berbeda rasanya kalau orang-orang terdekat yang kita harapkan mengucapkan. Tiba-tiba saya tersenyum menertawakan diri saya sendiri, lalu menangis. Benar-benar swing mood ya.. Apalagi baca chat kekasih yang malah asik dengan sekitarnya. Bukan orang pertama yang mengucapkan. Sempat mau marah. Tapi ya.. kok kekanakan sekali kesannya. Akhirnya saya baca-baca tulisan saya yang lalu-lalu. Air mata saya terhenti ketika mengingat peristiwa dulu. Saat saya mengatakan kepada orang tua saya kalau saya ingin diucapkan oleh mereka dan diberi kue tart tepat jam 12 malam.. Ayah saya hanya bilang, "Dulu-dulu kamu nggak kayak gitu? Itu kan bukan kebiasaan dan kewajiban?", ditambah Ibu saya, "Lahirmu pun jam 11 malam lebih, jadi harusnya diucapkan menjelang tanggal 8". Ahahaha, serasa ditampar.
Ya, seharusnya saya tidak sekekanakan itu. Toh ucapan tepat jam 12 itu karena saya melihat teman-teman saya mendapatkan hal tersebut (dan saya iri, lalu ingin). Bukan sesuatu yang saya jadikan kerikil dalam hubungan saya. Bukan sebuah alasan untuk saya merengek-rengek ke orang tua saya. Toh ucapan manis dan umbar-umbar (istilahnya) bukan kebiasaan semua orang. Toh kalau mereka (siapapun itu) sibuk dan lupa mengucapkan adalah hal yang wajar dan manusiawi. Itulah kira-kira nasihat orangtua saya kala itu. Hati kecil saya sih pastinya masih ingin. Menyesal juga kadang tumbuh dalam packaging perempuan yang tak lembut dan feminim, jadinya gitu deh. Khayalan romantisnya suka dihardik. Hahaha, apes bener.
Ya, seharusnya saya memahami kalau cara setiap orang lain-lain. Apa yang penting bagi saya juga belum berarti penting bagi orang lain. Seharusnya saya juga memahami bahwa ucapan dan hadiah itu bukan tolok ukur kasih sayang seseorang (ngomongnya sambil nggak rela sih sebenarnya haha). Ya, kadang mau protes sih, buat apa juga ya saya pulang cepat, spesialkan hari, toh juga nggak ada apa-apa. Bukankah lebih baik saya keluar dengan teman-teman dan countdown my birthday? entahlah. Seperti sudah mendarah daging kalau family (and my partner) comes first.. (terlepas dari.. ya, saya masih berharap surprise haha)
Ya sudahlah. Sudah 31 ini. Berhenti berfantasi berlebih bagai negeri dongeng. Bersyukur atas apa yang sudah saya punya dan sudah terjadi dalam hidup saya. Maaf ya orang tua dan kekasihku, bukannya saya curhat ke publik tentang kalian. Kalaupun ada yang baca postingan ini, pastinya lebih menertawakan kekanakan saya, silakan.. Hahaha saya juga ketawa. Toh rumah ini juga jarang saya publish, boro-boro ada yang baca. Semua ini hanya catatan kecil buat anak-anak saya kelak. Jadi jangan laporkan saya dengan tuduhan pencemaran nama baik ya? Hahaha. Saya juga pernah dinasihati orang tua saya. Setiap kita memang spesial, tapi bukan berarti kita menuntut orang memperlakukan kita spesial selalu. Kita memang penting, tapi bukan berarti kita nomor satu dan prioritas di dunia ini. Maafkan kalau tadi saya sempat merasakan itu semua. Tidak semestinya untuk usia 31 hahaha.
Ya ampun, panjang bener ngomel sampai sadar-nya. Ini salah satu kado buatku, bisa menguasai diri lebih baik lagi. Makasih Tuhan buat semuanya! Selamat Ulang Tahun, Pris!