Mulai menghitung waktu untuk benar-benar membangun tembok.
Gadis itu melakukannya bukan untuk menyakiti orang lain.
Ia membangunnya untuk menyelamatkan dirinya dari kematian.
Ia menatap lekat-lekat setiap gambar dan tulisan dari sosok itu.
Ia menangis, lantas tersenyum.
"Ternyata memang ia lebih bahagia sekarang."
Sesekali gadis itu membetulkan deru nafasnya.
Sesekali menahan deburan asam lambungnya.
Gadis itu menatap lukanya.
Ia berkata, "Ini kamu".
Sebentar lagi,
Sebentar lagi.