"Apakah dia datang nanti?", tanya ibu.
Jawab gadis itu, " Tidak".
"Kenapa? Kamu sudah bilang kan ibu sudah menyiapkan untuknya dan ini setahunnya kakak?", tanyanya lagi.
"Sudah. Tidak apa-apa. Berikan pada satpam".
Si gadis pun segera masuk kamar. Untuk sesaat waktu lamanya, gadis itu tidak dapat menahan air mata yang entah untuk apa.
Saya teringat peristiwa beberapa tahun lalu,
"Apa? Kamu nggak ambil fotoku sama sekali?", tanya saya.
Jawabnya, "Kan dilarang sama panitia".
"Iya, tapi kan aku udah minta tolong kamu buat tetep curi curi, makanya aku bawain kamera", sanggah saya.
Lawan bicara saya mungkin hanya berpikir saya minta difoto untuk narsis semata. Dia tidak tahu betapa berartinya terpilih untuk menyanyikan lagu itu. Dia tidak tahu betapa bahagianya saya mendapatkan kesempatan untuk duet dengan seseorang yang saya anggap hebat dan tidak pernah saya bayangkan akan diduetkan dengan saya. Lawan bicara saya tidak tahu bahwa saya berencana pensiun dari komunitas menyanyi itu untuk dia juga kelak. Lawan bicara saya tidak tahu betapa dalamnya moment yang saya anggap akan jadi moment terakhir saya dilayakkan untuk berdiri di panggung itu. Lawan bicara saya tidak tahu betapa berartinya itu untuk saya.
Gadis itu menatap foto sosok yang ia tahu selalu ada untuknya. Ia menarik nafas panjang. Mengusap air matanya. Dan belajar memahami, ketika suatu hal begitu berarti untukmu dan begitu penting namun tak dianggap demikian oleh orang yang kamu harapkan berpikiran dan berperasaan sama... Menangislah sesaat agar kau lega. Lalu tersenyumlah kembali. Karena tidak semua orang dapat menghargainya, dan itu hak mereka.