Beberapa waktu yang lalu, beberapa teman saya bercerita mengenai hal yang satu ini. Saya terkesima, mendapat kisah indah, apapun itu. Saya juga belum bisa berkomentar, karena saya sendiri belum berumah tangga :)
kata-kata yang menurut saya 'berarti' ini mungkin sepele bagi anda. Atau drama. Maka, silakan tutup postingan ini, sebelum anda muntah. Saya tidak suka diremehkan apa yang menjadi 'berarti' di mata saya :)
oke, sebut saja si A. Dia dengan gusar, antara sedih dan sumringah bercerita bahwa ada banyak masalah mendera akhir-akhir ini. Tapi dia bahagia, karena suaminya selalu mensupportnya, tepatnya mereka saling menguatkan. Si A bilang, "Dia emang ga ngomong akeh cong, cuman dia mau ndengerin gw gitu lho. Intinya, dia selalu bisa menyampaikan kata-kata : everythings gonna be allright to me". Lalu saya tersenyum dan dia melanjutkan kisah bahwa suaminya jatuh cinta padanya sejak si A ini memanggil pelayan untuk mengambilkan kecap bagi si suaminya yang sekarang. Hanya karena hal sepele. Tapi itu penting bagi mereka. Si A juga bilang, "Dari awal si abang uda minta gw jadi istri, bukan pacaran. karena itu dari awal dia kerja keras ke negeri seberang, buku tabungan dikasih ke gw semua. Dan dia mengumpulkan uang dalam 'pengawasanku', yah aku juga bantu-bantu lah. Akhirnya itu duit buat mahar gw, ama nikah dan kehidupan kami. Intinya yang bikin gw yakin dan cinta dia, si abang udah tahu apa tujuan hidupnya : menikahi gw. Dan dia fokus dengan tujuannya, dan tindakan dia itu ngebuat gw merasa dihargai... terutama dipercayai. Bayangkan, baru pacaran, gw uda liat duit-duit dia... akhirnya gw semangat untuk mengelolanya". Mungkin cerita sahabat saya ini standard bagi kita. Tapi berkesan bagi saya, ada kepercayaan, cinta kasih dan kerjasama untuk satu tujuan :)
Lalu kisah si B yang sekarang hidup di negeri seberang. Setelah ia putus dengan kekasih sebelumnya, tiba-tiba pria yang dulu pernah jadi idolanya mengontaknya kembali. Dipisahkan oleh dua negara dan bertahun-tahun loose contact. Tenyata si pria ini tengah mem'bersihkan' email-email lama dan menemukan nama si B. Singkat cerita, si pria memutuskan mengambil cuti dari kerjanya dan ke Indonesia untuk menemui si B dan orang tuanya, serta meminta ijin orang tuanya untuk me-nyerius-kan dan meyakinkan si B ini untuk menikah. Si B berkata pada saya, "laki-laki memang pemimpin, tapi dalam beberapa hal bukan berarti saya tidak boleh mendominasi atau mengambil keputusan. Itu yang bikin saya bahagia, dia tahu kalo perempuan akan lebih ribet dan detil, jadi semua urusan diserahkan ke saya. dan dia tahu kalo dia lemah buat urus ini itu, jadi dia membebaskan saya. Jarak jauh hanya saling percaya dan komunikasi.". Dia melanjutkan, "Kami mengumpulkan gaji dari awal pacaran, selama dia bekerja disana, saya sudah nyicil beli ini itu... supaya nantinya ga serba mendadak. Tapi saya selalu minta persetujuan dia dulu. Kita seperti partner yang hidup berdua di dunia ini. Ada keluarga besar, tapi saya happy karena kami mandiri, jauh dari keluarga bikin semua serba mandiri.".
lalu kisah si C, dia lebih enteng lagi... baru pacaran sebentar, menikah dan awet bertahun-tahun. Dia memang lebih santai dalam setiap hal, tapi saya yakin dia pemikir dan memikirkannya masak-masak. Dia berkata pada saya, "gw happy meski banyak masalah... soalnya laki gw ini dewasa. Dia ga ribet ama omongan orang. Dia nemuin orang tua gw, ngajak kawin, dia target, ngasih duit tabungannya. Udah. Dan satu lagi, dia takut ama Tuhan. Bukan gw matre, cil. Tapi gw mesti ngrasa aman mau nikah ama dia. Gw juga ga minta pesta gede, waktu itu bikin di gereja trus bikin small party di resto hotel. Intinya dia berani nghadepin ortu gw dan meminta ke mereka, lu bakal ngrasa istimewa. Laki-laki yang uda ngrasa diterima dan langsung jalan ga pake minta ke ortu lu, itu gatau arti dalem kayak gitu. Apalagi laki-laki yang ga nabung buat masa depan bersama. Itu uda ga niat dan ga siap benernya. Simple!". Bicaranya sedikit meledak-ledak, mungkin karena ada masalah itu, tapi ketika saya pancing mengenai pendapat suaminya tentang masalah ini, dia bisa tersenyum. Mungkin itu yang membuat saya merasa berkesan.
Lalu kisah si D, dia dan saya hanya bertemu sekali secara fisik, diperkenalkan oleh sahabat saya. Layaknya sahabat lama dan wanita-wanita yang bisa dibilang sepemikiran, akhirnya kami 'nyambung'. Dia baru menikah, dan ternyata pernikahannya tidak semulus yang saya duga. Nyaris batal bahkan. Alasan klise, karena 'gangguan' calon ibu mertua. Intinya keluarga besar. Masalahnya menyangkut uang, perbedaan pola pikir, perbedaan cara bicara, yeah... somekind like that. Suaminya adalah anak kesayangan meski bukan anak bungsu. Selama ini suaminya 'lemah', hingga akhirnya si D memutuskan kalau sampai dia tidak 'stand up' membela saya yang adalah calon teman hidupnya sampai maut memisahkan, lebih baik batal. Si D berkata sama saya, laki-laki yang memang tahu kamu adalah tulang rusuknya akan memperjuangkan. Tidak akan menjelek-jelekkan kamu dan akan membelamu. Si D bercerita bahwa dia mendoakan laki-laki ini supaya dapat hikmat Tuhan. Hingga si D berkata pada ibunya, "jika ada yang mau disampaikan ke si D, bilang saja, nanti saya yang sampaikan". Disitulah akhirnya si D ini yakin bahwa laki-lakinya ini mampu memimpin rumah tangganya. Si D bilang sama saya bahwa laki-lakinya ini selalu jujur dengannya, menjembatani hubungannya dengan keluarga lakinya, tapi si suami ini melakukannya atas kesadarannya, bukan karena paksaan si D. Pun mengenai keuangan, si suami memberi ketegasan kepada keluarga besarnya bahwa si D adalah menteri keuangan dalam rumah tangganya. Dan anak-anak ini pun mencarikan jalan keluar untuk orangtuanya. Menurut si D, kalo laki-lakinya ini tidak bisa tegas ke keluarga besar, labil, terlalu banyak mendengar pendapat orang, maka intinya si laki-laki ini memang belum siap bersama si D.
Ada lagi kisah si E, lucu lagi ceritanya, karena suaminya ini juga humoris. Singkat cerita, si E hanya bilang sama saya, "Meski dia (si suami) ini becandaan melulu, tapi dia nggak pernah ngremehin aku. Aku cerita tentang masalah sesepele apapun buat kaum adam, dia nggak pernah bilang : halah, gitu tok aja.". True, terkadang apa yang remeh buat pria, dinilai penting bagi orang wanita.
Lalu kisah si F, dia bilang bahwa suaminya ini tipikal tertutup, apa-apa berusaha diselesaikan sendiri. Cenderung individualistis, sampai-sampai awal berteman si F bingung kalau mau bercanda atau marah. Namun si F bilang, ketika dia mulai terbuka, mengajak serius dan terpenting adalah bukti dari tindakan, pris! Saya terdiam dan... dia melanjutkan ceritanya lagi, "Kita kan nggak bisa telepati apa isi hati dia, dia ada masalah apa, ntar tiba-tiba kita disentak. Sampai sekarang dia sangat terbuka, jadi aku merasa aman. Mau pake duit buat beli jam tangan aja dia nanya dulu, hehe... Mendiskusikan segala sesuatunya dan terbuka. Jangan ambil keputusan sepihak trus nyuruh bini diem. Itu bikin aku di'manusia'kan. pris".
Lalu kisah si G, dia bilang bahwa suaminya itu pendiam tapi pemikir. Namun yang disayangkan adalah pemikirannya itu tidak sesuai Alkitab (mereka Kristiani). Suaminya ini juga tertutup, sehingga dia mendengar masukan hanya dari kumpulan sahabat dan beberapa orang berpengaruh. Si G sampai di satu titik berteriak, "Hampir 5 tahun kita pacaran, kamu masih lebih mendengarkan orang lain yang membicarakan aku?? Orang lain boleh kasih masukan, tapi tidak semua kau pusingkan. Prinsip kita hanya apa yang Yesus firmankan. Titik". Si G sudah capek menjelaskan detil. Menurut si G, alkitab sudah menulis seperti apa hubungan suami istri dan kasih, dan sebagainya. Kenapa masih mendengarkan usul-usul duniawi atau cara hidup orang lain. Akhirnya si pria ini mulai berubah, ia bisa tegas, mengubah mindsetnya, berteman boleh tapi tetap sadar diri sapa statusnya dan siapa pendamping hidupnya dan memprioritaskan si G. Pendamping itu bukan aksesoris, tapi nyawamu. Si G bercerita, "Mengubah mindsetnya itu harus dimulai dari dia dan Tuhan, pris. Kita tidak bisa. Kalau dia tidak punya mindset takut akan Tuhan dan siap hidup bersamamu, jangan coba-coba.". Si G juga menjelaskan, "Kamu akan menemui kelelahan ketika yang memberi masukan dan mengompor-ngomporinya itu adalah kaum perempuan. Tiba-tiba laki-lakiku berpikir seperti alur perempuan dan kami bertengkar bagai dua perempuan, karena dia kehilangan laki-laki yang lebih bisa meredam permasalahan. Ketika yang memberi masukan dan mengompo-ngomporinya adalah laki-laki, kamu akan menemui dia bagaikan laki-laki liar yang tidak terikat komitmen. Dia bebas! Aku bersyukur Tuhan mengijinkan kecelakaan itu terjadi, sehingga dia bisa bertemu Tuhan secara pribadi dan meminta maaf pada saya serta keluarga saya. Oiya Pris, dia juga berani meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya. Sejak itu sampai sekarang, kami saling percaya dan terbuka. Bisa dibilang pacaran sesungguhnya dimulai setelah 5 tahun itu :)". Wooow... Sampai perlu sebuah tabrakan kendaraan.
Lalu kisah si H, secara simple dan gamblang dia hanya bercerita bahwa suaminya ini dari masa pacaran tidak pernah memberlakukan hukum : siapa dulu yang harus telepon, siapa dulu yang harus bilang i love you, siapa dulu yang harus minta maaf. Si H berkata, "Dia tahu bedanya laki dan perempuan, pris. Secara karakter dan sebagainya, dia paham. Jadi dia nggak pernah mempermasalahkan, misal aku ingin buka HP dia, dia ijinkan tapi tidak menuntut untuk membalas membuka HPku. Aku juga ingin tahu mantan-mantan dia, tapi dia tidak bertanya detil tentang kisahnya, malah saya yang menceritakan masa lalu saya. Intinya apa yang seharusnya tidak jadi masalah, tidak dibuat menjadi masalah olehnya. Dia tahu perempuan seperti apa, itu dewasa Pris. Bukan balas-balasan. Kalau kamu menyembunyikan ini, maka aku juga. Karena balik lagi, apa yang dianggap remeh laki-laki itu terkadang penting buat cewe. Maka cowok nggak seharusnya 'menjadi cewe' pakai bales-balesan. Atau siapa duluan, siapa keluarin duit paling banyak, siapa paling capek. That's why i trust him, Pris. He do it, not 'words' it only".
Dan masih banyak lagi...
Percaya atau tidak, semua sahabat saya 'menyelipkan' kisah itu ketika mereka sedang bercerita tentang masalah lainnya. Yang membuat saya bahagia adalah, ditengah-tengah masalah yang menerpa mereka, mereka sadar bahwa partner mereka selalu ada. Saya menuliskan kisah mereka ini hanya untuk bilang bahwa kisah fairy tale mungkin hanya ada di disney. Tapi Alkitab juga menuliskan itu semua dalam kitab Galatia mengenai buah buah roh. Atau dalam kitab Korintus mengenai Kasih. Jauh sebelum ada disney stories, Tuhan sudah menulis kisah kasih antara pria dan wanita. Simple, itu prinsip dasar. Setelah memegangnya, otomatis menjadi satu teamwork, saling mengasihi, saling percaya, saling terbuka, saling menghormati, sepadan, saling memegang kesetiaan akan komitmen, dan terutama takut akan Tuhan. Kisah mereka semua nyata. Dan itu juga akan terjadi pada saya, anda, dan kita semua :)