20 September 2011

two movies last nite


Semalam saya menyelesaikan film terakhir yang saya sewa, sebelum denda keterlambatan terus bertambah. Rasa diburu-buru jam tutup tempat persewaan tidak pernah merusak konsentrasi saya terhadap sebuah film. Mungkin hampir semua anak yang terlahir di era saya lebih mencerna komunikasi visual, seperti film dibanding media lain. Atau mungkin hanya saya?

Saya tak begitu menyukai antre di sebuah bioskop. Bukan anti mengantre, tapi saya penat melihat kerumunan massa. Saya lebih suka menonton dengan hati tenang. Terlambat dan tidak menjadi yang pertama menyaksikan tak apa, asal saya memang menikmatinya nanti. Alhasil, saya lebih suka menyewa film atau membelinya dan menonton dirumah dengan posisi duduk sesuka hati, cemilan sesuka hati, dan tombol pause ataupun previous jika saya kurang mengerti atau sesekali ke toilet serta yang terpenting adalah pemilihan jam menonton yang saya kuasai.

Dalam hati selalu ada visi untuk menonton semua film yang ada di muka bumi ini. Yang berkualitas tentunya. Saya merasa, ini akan menjadi acara keluarga saya kelak, bersama suami dan anak anak menonton sebuah film menghabiskan akhir pekan. Menyenangkan! Sampai detik ini, saya bersyukur memiliki partner yang punya hobi sama. Kami menonton, mendiskusikannya, bahkan menjembatankannya dengan kehidupan nyata, ha!



Semalam, kami menyelesaikan film berjudul The Rite. Kami berdua menyukai semua jenis film, salah satunya adalah horor. Film ini berkisah tentang exorcism. Tapi mungkin bagi saya secara pribadi, kisah exorcism-nya hanya nampak di akhir kisah. Sepanjang kisah, alur menceritakan seseorang yang mempertanyakan keimanannya. Secara pribadi, film ataupun apapun yang anda lihat-dengar-rasakan di dunia ini, itu semua yang membentuk karakter anda, dimulai dari jauh di alam bawah sadar anda. Karena itu, seperti seseorang yang menyiapkan tisyu sebelum ke pemakaman, saya pun sudah menyiapkan doa dan faith sebelum nonton film horor, ha! Yah, itulah saya, saya sangat serius. 

Kembali lagi ke topik. Karena apa yang saya imani, yaitu Yesus di"film"kan, maka mungkin saya lebih bisa merasakan dibanding orang yang memiliki kepercayaan lain. Tokoh Michael ini adalah seseorang yang sangat logika. Karakter umum seorang pria. Karakter mayoritas manusia modern. Lebih konservatif saya. Ada statementnya saat iblis menanyakan, "Do you believe in me, now?". Dia menjawab, "Yes". Bola mata Michael sempat menunjukkan gejala orang kerasukan namun tiba tiba kembali normal, ia melanjutkan kalimatnya. "Yes, I believe in you, as I believe in God now". Iblis mengamuk sejadi-jadinya. Itu setelah Michael mengalami berbagai ujian. 

Akhirnya saya dalam hati berkata, memang benar kata Tuhan di Alkitab. Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat. Ha! bukan berarti saya penakut, terdesak lalu memilih untuk percaya begitu saja. Saya juga mengalami perjalanan iman, hingga detik ini. Namun, saya harus lebih bersyukur, saya lebih cepat ditangani. Saya harus terus bersyukur karena diluar sana banyak orang yang mengalami perjalanan iman yang berbeda-beda dan mungkin lebih berat. 

Lalu saya juga melihat bahwa, memang benar adanya. Setiap manusia itu memiliki kuasa. Roh yang ada dalam diri kita itu lebih besar dari roh apapun yang ada di dunia. Dulu pernah ada hamba Tuhan yang bicara ke saya dan keluarga, ketika iblis datang berusaha mengacaukan keluargamu dan kondisimu, carilah Tuhan! Jangan mengutamakan cari pendeta dahulu jika kondisi sudah terdesak. Mengapa? karena kita sudah diberi kuasa oleh Tuhan. Michael sempat menangis dalam film itu dan berlari keluar ruangan, ketika Angie bertanya, "mengapa?", ia menjawab, "yang aku ragukan sebenarnya adalah diriku". 

Benar sekali. Keraguan pada diri kita sendiri sebenarnya adalah setan yang lebih setan. Susah payah kita mengalami perjalanan iman hingga naik tingkat. Haruskah saya mati sia-sia hanya karena saya ragu dengan diri saya sendiri? Kalimat ini adalah kalimat pamungkas yang saya telan kemarin. Semoga saya tidak mengabaikannya. 


Masih belum puas, saya menyelesaikan film terakhir. The boy in the striped pyjamas. Setting drama dalam sebuah peperangan selalu menjadi kisah favorit saya, baik film maupun buku. Saya sangat menyukai sejarah, meski saya tidak pernah menghafalkannya. Jangan tanya saya kapan perang dunia I atau II terjadi. Perbedaan ideologi komunis dan fasis saja baru saya pelajari dari partner saya. Yah, dia memang sangat menyukai buku dan filsafat. Hanya membahas sesuatu kecil saja kadang membuat perdebatan. Perdebatan semu belaka yang (saya harap selamanya) akan dikalahkan oleh kasih. 


Film baru berjalan 20 menit, hati saya sudah mulai mellow tingkat tinggi. Saya menonton sendiri. Mata saya sudah dipenuhi kumpulan air mata yang siap berhamburan. Saya masih ingat film Life is Beautiful yang membuat saya tidak bisa tidur karena terlalu menangis. Saya sudah siap juga untuk film ini. Dengan tokoh anak kecil. Kecintaan saya terhadap anak kecil. Ah, saya pasti tidak tahan!

Benar. Saya bersyukur karena tidak menyaksikannya di bioskop. Jadi saya bisa menangis dengan suara pula. Perang adalah hal yang saya sangat benci, namun selalu saya cintai untuk menjadi sebuah film. Selalu ada nilai yang bisa kita petik. Kali ini dengan latar belakang perang dunia II, Hitler dengan fasis-nya hendak membumi hanguskan darah Yahudi dari muka bumi. Film ini bersetting di Jerman sendiri. Tepatnya kamp untuk orang Yahudi mengalami kematian dengan cara holocaust, beramai ramai dikunci dalam sebuah ruang tanpa ventilasi lalu dimasukkan gas beracun.

Saya teringat ibu saya mengolah adonan kue. Mencampur ini itu, lalu mengayaknya hingga menjadi satu kesatuan, sebuah adonan. Dimasukkan ke sebuah oven, lalu membuka oven, dan panas api oven pun terasa ke seluruh dapur. Itulah pembantaian. ha!


Manusia-manusia berhati bengis kerasukan iblis dengan tega melakukannya.

Apa yang saya petik dari film ini selain tangisan?
Jadilah anak kecil ketika hatimu mulai mati rasa akan kasih.


Bruno kecil menjalin persahabatan dengan Shmuel kecil yang adalah Yahudi. Dia tidak tahu apa itu Yahudi, dan mengapa Jerman harus memusuhinya?
Persahabatan mereka terpisah oleh pagar kawat kamp.


Anak kecil tidak kenal dia terlahir dari ras apa, agama apa, strata sosial ekonomi apa. Dia tidak tahu standard dunia untuk orang cantik dan tampan, warna kulit, dan apapun itu. 
Bruno akhirnya mati dalam ruang holocaust bergandengan bersama sahabat kecilnya itu. Ayahnya yang kepala Nazi bagian penjagaan kamp pun histeris mengetahui anaknya juga menjadi korban. Ibunya histeris. 

Mengapa Bruno bisa mati?
Bruno nekat memasuki kamp untuk bermain bersama Shmuel. Dia berjanji membawakan Shmuel sandwich seperti biasa, dan akan menolong Shmuel menemukan ayahnya. 
Anak sekecil itu mengenal apa yang namanya arti menolong, ia bahkan masih menyebut tempat itu sebagai pertanian, bukan sebuah kamp. Shmuel mengatakan ayahnya hilang sejak disuruh berangkat kerja. Dia kesulitan mencari ayahnya diantara ribuan manusia dengan berbaju piyama. ketika mereka berdua sedang asyik mencari ayah Shmuel, ternyata mereka melewati barisan yang tengah digiring ke ruang holocaust. Dengan terpaksa pun mereka tergabung diantara ratusan pria dewasa itu. Mereka masuk, lalu disuruh membuka baju dengan alasan akan mandi bersama.

Bruno menggenggam tangan Shmuel dan berkata, "It's allright, we're just take a shower". Dengan lincah dan tenang layaknya para bocah, mereka membuka pakaian. Dan gas beracun pun dimasukkan. 


Saya menangisi kepergian mereka berdua, kepergian nyawa nyawa yang melayang dengan tragis. 

Saya menangisi banyak hal.
Menemukan bahwa di film ini, seorang anak akan (dan selayaknya) bangga dengan kondisi ayahnya. Apapun ayahnya, baik hanya seorang pembuat jam berdarah Yahudi, ataupun seorang kepala Nazi. Anak-anak ini hanya tahu ayahnya-lah ayah terbaik. Demikian dengan saya. Terlepas dari apapun kekurangan ayah saya, yang saya ambil, jangan pernah merusak nilai-mu di mata anak-anakmu (kelak). Minta maaflah, itu akan lebih ksatria. Jadi jika ada yang bertanya sekarang, "Mengapa kau tidak melakukan hal ini dan hal itu?", Pernah saya menjawabnya dengan, "Karena saya tidak ingin menjadi seperti itu di mata anak anak saya kelak". Itu tidak dimulai ketika anda menjadi orang tua. Tapi dari detik anda hidup, alias jadilah pribadi yang baik. Memang tidak ada orangtua yang sempurna, tapi selalu ada kasih yang sempurna di mata anak-anaknya.



Menemukan bahwa di film ini, ada persahabatan tanpa batas kawat. Iya. Saya pernah mengalaminya memang. saya terlahir dari dua suku yang berbeda dan punya identifikasinya masing-masing. Ambon yang dikenal hitam. Dan Manado yang putih. Ketika kecil, saya tidak pernah dinyatakan secara verbal sebagai orang Ambon atau Manado oleh orang tua saya. Karena mereka sendiri sudah tidak membedakan dan sudah merasakan suka dukanya menikah beda suku di jaman mereka. Stigma-stigma buruk antar suku tidak ingin mereka turunkan pada saya. 
Sampai di titik, "Kamu orang apa?". Di situ saya belajar. Saya malu menyerukan saya orang Ambon dengan keras, saya jawab, "ambon MANADO"... Saya sudah terkontaminasi. Meski itu dulu. Tapi yang saya lihat dunia ini memang jahat, menodai kepolosan masa kecil kami.

Menemukan bahwa di film ini, anak kecil tak akan mengingkari janji sahabatnya. Bruno tahu kamp itu mengerikan, ia terbiasa dengan kondisi kaya dan penjagaan tentara. Namun, ia hanya melihat Shmuel membutuhkannya. Pernahkah anda menolong seseorang dengan memberikan apa yang anda mampu lakukan? Atau hanya sepersekian persen dari yang anda mampu lakukan? Pernahkah anda menatap hasil pengingkaran janji anda? 
Film seperti ini selalu memancing separuh dari jiwa saya yang terus-terusan berkata, "I have to do something!"


Semoga keragu-raguan saya to do something tidak seperti Michael, dan semoga ketika saya doing something bisa setulus Bruno. Masih banyak diluar sana orang yang berkebutuhan. Orang kerasukan, orang yang terluka kejiwaan, orang yang tersakiti, orang korban perang dan korban stigma negatif. Tidak selalu materi. Tidak selalu materi, kawan! Yang terburuk adalah menjadi korban diri sendiri, ketika kita harus mati dengan segala cita-cita tergapai namun tidak menjadi sosok yang berarti. Kematianku tidak boleh sia-sia.

Film, oh film. Terimakasih telah menjadi media pembawa sadar.