05 May 2010

father and daughter

dua hari ini ada sekilas dialog antara kami, yang mungkin tidak penting, tapi membuat saya merenung dan merasa bersalah pada akhirnya. Yah...ayah saya yang dulu seorang pekerja dan bermateri lumayan kini telah pensiun. Itu tidak menjadi masalah sampai sebuah musibah menimpa kakak saya dan keuangan sedikit bergejolak dirumah kami. Saya tidak ingin mengeluh dalam post ini. Karena Tuhan selalu mencukupkan dengan banyak cara ajaib di sekitar kami. Buat saya, itu sudah lebih dari cukup.

Kembali ke dialog kami di pagi hari. Seperti biasa, ayah saya mengantar hingga ke depan perumahan untuk mempermudah saya mencari angkot. Mungkin terlalu lelah dengan kegiatan weekend kemarin, saya terlambat bekerja terus dua hari ini. Awful! Dua hari itu juga saya memohon kepadanya untuk mengantar hingga ke kantor. Bad girl! Memalukan sebenarnya, saya sudah berkomitmen untuk mengurangi permohonan kepadanya sejak lulus kuliah. Dan gagal, nampaknya. Alasan sepele, jawabannya. Bensin mahal, tidak ada uang, plus beliau lelah. Lucunya, saya malah ngomel, "aduh, sekarang kok duit duit mlulu ya ngeluhnya papa? bla bla bla".

Saya tahu kondisi keluarga saya, tapi saya menjadi sosok yang tidak mau tahu ketika kalut terlambat kantor. Saya benci dengan saya yang seperti itu. kemarin beliau menolak dan saya malas berdebat. Tapi kali ini beliau mau padahal saya tidak terlalu merayu. Aneh.

Entah mengapa, ketika tiba di tujuan, saya mengeluarkan selembar uang dengan nominal terbesar di dompet saya dan saya berkata, "Pakai buat mama dan papa ya?". Beliau tersenyum dan menjawab, "Iya non, nanti jadi pempers kakakmu". Ahahaha, kami berdua tertawa. Saya masuk ke kantor dengan perasaan aneh dan mata berkaca-kaca.

Di ruangan, saya terdiam. Saya memperlakukan ayah saya seperti orang upahankah? Tidak..tidak, saya tidak berencana membayar untuk antarannya. Tapi karena saya ingin memberi. Situasi membuat seakan-akan terlihat begitu. Saya terdiam lagi, ada rasa senang bisa memberi. Merekalah alasan saya bekerja, masa depan belum dapat saya pikirkan sebenarnya, karena saya berharap pasangan saya kelak bertanggung jawab pada saya. Merekalah alasan saya bekerja keras. Maaf, tapi begitulah kondisinya. Siapa lagi anak yang bisa mereka andalkan?

Saya membandingkan dengan kondisi saya dengan mantan pacar saya yang terakhir. Dengan kondisi sosial-ekonomi kami yang begitu terentang jauh berbeda, saya dengan mudahnya memberi isi dompet saya untuk memperlancar kencan kami. Maaf buat kejujuran ini. Ini hanya pemikiran saya sebagai anak yang jahat tadi pagi. Masakan untuk seorang pria yang tidak mencintai saya sungguh-sungguh dan tidak bertanggung jawab, dengan mudahnya saya memberi uang buat bensin dan kemudahan-kemudahan dia, tapi untuk ayah saya... Yang menanggung hidup saya selama ini, yang bekerja keras untuk saya, yang rela bela-belain pulang weekend ketika dia training di luar pulau hanya untuk membawa pulang baju natal dan boneka kelinci di hari ulang tahun ke tujuh saya. Sementara mantan saya, orang baru dalam kehidupan saya yang tidak mungkin melakukan itu semua untuk saya dengan cinta dan ketulusannya.

Saya memukul kepala saya sebentar tadi. Maafkan aku, papa. Bukan saya pelit, saya hanya berusaha memanage tadinya... sampai saya sadar, kebutuhan buat kalian, orang tua dan kakak saya, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Saya mencintai kalian, tapi mengapa tindakan saya terlihat lebih mencintai mantan saya. Maafkan saya. Saya salah.

No comments:

Post a Comment

write down, please :